30 July 2011

Gadis Kerudung Putih

(Saniah LS)

Gadis kerudung putih itu
Seperti Laksamana Malahayati
Saat memimpin negeri ini
Saat berperang dengan kemaksiatan
Saat menegakan kebenaran agama Allah

Gadis kerudung putih itu
Seperti Cut Nyak Dhien
Dia sangat pandai menyejukan jiwa yang kerontang
Dia sangat syahdu melantunkan ayat-ayat di dalam Alquran
Dia memiliki semua yang dimiliki tokoh perempuan di Aceh ini

Gadis kerudung putih itu
Bagai bidadari bagi suami dan keluarganya
Bagai malaikat bagi orang miskin
Bagai sahabat bagi rakyatnya
Bagai teman bagi jurnalis

Gadis kerudung putih itu
Hmmm...
Hmmm...

Politik Kotor

Heran, ketika calon independen disetujui Mahkamah Konstitusi (MK) malah yang bergulir 'sandiwara' politik lain. Skenario itu tersusun dan tertata rapi. Andai saja partai politik memberi kesempatan kali kedua calon independen 'bermain' beraup suara di Pilkada Aceh 2011, dan membiarkan masyarakat secara sportif tanpa ancaman untuk memilih calon dari suatu partai itu dirasakan lebih bijaksana.

Tetapi kebijaksanaan itu tidak dipikirkan mereka dengan membiarkan rakyat memilih dan memberi suaranya kepada pejabat yang saat terpilih lupa dengan janji dan rakyat yang memilihnya. Atau biarkan kami rakyat ini memainkan kembali permainan politik yang tak jentel? Golput, tidak memilih siapapun? Ayo mau yang mana...

Aq masih ingat ketika guru dan dosen politikku mengatakan, politik itu saling menjatuhkan. Politik itu selalu menganggap dialah paling benar hanya karena inginkan kursi dan jabatan di Dewan Perwakilan Rakyat atau 'baju kebesaran pejabat'. Uhhh...politik dari tahun ketahun emang tak pernah bersih. Partai yang kononnya membawa nama agama malah kini pun bermain kotor hanya memikirkan kelompok-kelompok mereka.

Muak! Jangan buat negeri ini hilang kedamaian lagi gara-gara politik kotor kalian. Jentel dan sportif lah. Biarkan kami rakyat ini jadi penentu, pantas kah kamu-kamu, tuan-tuan, Anda-anda duduk di kursi itu? atau kami tidak memilih sama sekali dan tidak memberi suara kami? Ingat semua ada ditangan kami, rakyat....

(Banda Aceh, 30 Juli 2011)

19 March 2011

Jika

(Puisi ntuk kam by Saniah)

Jika aku bisa menguliti malam
Maka akan kulakukan untuk mu sayang
Agar aku bisa membalutnya dengan pagi
Karena aku selalu ingin menatap senyum mu
Kemudian merasakan hangatnya cinta mu
Setiap pagi, setiap siang, setiap sore, bahkan menjelang malam
Di mana ada kamu selalu bersamaku

Jika aku bisa mengukir rasa ini
Maka akan ku ukir dia di atas kayu jepara
Sehingga senan tiasa terlihat indah dan mengkilat
Tak pernah pudar oleh waktu

Dan jika aku bisa menjadi bunga
Maka aku ingin seperti teratai untuk mu
Meski akar cintaku tak menancap di tanah
Tetapi ia kokoh di atas air
Meski angin mengoyangkan batangku
Meski hujan membasahi kelopakku
Aku tetap berdiri kokoh
Dan memberimu setiap saat keindahan cintaku
Pada setiap kelopak yang ku miliki







09 January 2011

Lelakiku

Lelakiku...
Kapan kamu datang melamarku
Jangan biarkan aku jemu menunggumu
Jangan biarkan hatiku jemu

Lelakiku...
Ku suka dirimu
Tapi aku tak suka kalau terus menunggu
Aku juga tak suka ketidak beranianmu
Mengarungi hidup dimahligai impianku

Lelakiku...
Kamu memang lelaki
Tapi kamu bukan selaki-lakinya lelaki
Karena kamu lebih banci dari banci
Maka jadilah lelakiku yang jentel


Karma

Karma..
Yakinlah dia akan datang
Menghajarmu bagai badai
Hingga akhirnya menyadarkan dirimu
Kamu memang pantas menerimanya

Karma...
Ia akan datang bukan karena doa dari orang yang teraniaya
Tapi janji Tuhan mu
Karena setiap hati yang kau sakiti
Jika hati itu belum memaafkan
Maka kamu akan merasakannya
Sama seperti yang dia rasakan
Bahkan lebih sakit dari yang dia rasakan
Orang yang kamu sakiti karena prilaku mu itu di masa lalu

Karma...
Ia akan hadir bukan sebagai hukuman
Tapi ntuk menyadarkan kamu
Ini buah dari prilaku mu
Ini dari apa yang telah disemai
Ini dari kesakitan yang harus juga dirasakan
dan itu adalah karma mu...


02 January 2011

Bersama Mu

Sayang...
Kehadiran Mu bagai udara pagi yang kuseduh saat aku terbangun dari tidur
Segar...dan seluruh ronggaku dingin dan sejuk
Sehingga ku ingin menyeduhmu tiap saat

Sayang...
Sebelumnya aku tidak merasakan ini
Dicintai dan bahagia
Aku merasa setiap sisi hidupku berharga
Semua karena bersama kamu

Sayang...
Janji, kamu tidak mengakhiri kebahagian ini
Biarlah aku menyeduhnya seperti udara pagi
Karena bersama mu aku merasakan cinta itu indah kini...

04 December 2010

Tak Bisa Membenci

Tak bisa aku membencimu
Walau amarah itu teramat sangat
Sungguh...itu benar adanya
Ntah lah...aku kebingungan mencari cara

Mungkin sebaiknya aku tak mengingat semua
Membiarkan ia seperti udara
Tak berasa dan apalagi berberbau
Ya barang kali harus seperti itu
Karena memang bukan sifatku untuk membenci

07 November 2010

Kutemukan Kembali

Saat aku letih dan luka itu masih membekas
Kau datang memberi bahumu ntuk aku sandarkan
Aku merebah sejenak dan bersandar dibahumu...

Kau bisikan ditelingaku, energi cinta
Hingga aku yang gerah ini, menemukan kembali duniaku yang hilang
Kau hadir dalam rasa ketakutanku, takut akan kembali terluka
Namun akhirnya kau menyadarkan aku bahwa kau ingin membalut lukaku
Dengan cinta yang kau miliki dan tak bisa kau pungkiri..hingga aku tergugu

Sayang...
Mungkin ini bagiku masih terlalu pagi,
Aku harus memulainya lagi, membuka sedikit demi sedikit celah hatiku yang tertutup itu
Memberi mu ruang untuk kutempatkan dibagian hatiku yang lain
Karena luka itu belum pulih betul dan masih membekas
Kemudian aku balas berbisik...minta, biarkan semua mengalir seperti air
Hingga aku merasakan yang hilang itu akan kembali hadir
Dan aku pun tak bisa pungkiri...aku bahagia saat bersamamu...
Kebahagian yang telah hilang direngut oleh nya...






09 October 2010

Sayang itu Slalu untuk Mu...tapi Aku tak Inginkan Mu

Hampir dua dekade waktu ku lalui tanpa kamu
Aku rindu...
Aku coba membenci
Membuang semua bayangmu, setelah apa yang kulalui bersamamu
Setelah apa yang kau lakukan kepadaku
Tapi akhirnya aku sadar...
Aku tak bisa mengubah hatiku untuk singgah ke lain hati

Ia akan kukunci...
Ia tak akan kubiarkan ntuk dilukai
Ia akan kujaga
Hingga nanti, aku yakin Tuhan akan mempertemu diri ini
Pada sosok diri yang lain...sosok yang mencintaiku tulus dan apa adanya

Yang kumiliki kini keyakinan
Dalam sebuah doa yang kupanjatkan
Agar Tuhan menjagamu untukku...
Memberiku waktu ntuk bisa merangkulmu dalam dimensi waktu yang lain
Mencumbu hatimu untuk bisa mengetarkan kembali hatiku yang kau lukai
Tapi bukan ntuk bersama kamu, meski aku menyayangi

Andai waktu bisa berulang kembali
Yang kuminta kepada-Nya
Hadirkan kamu untukku meski bukan ntuk kumiliki
Karena kini yang kubutuhkan bukan yang ku mau
Bukan bersama mu yang dulu
Karena meski aku menyayangi
Tapi aku tak ingin bersamamu lagi...






04 September 2010

Menikahlah dengan Hatiku

Ku satukan rangkaian awan putih di langit
Ku bentuk, ntuk kujadikan sebuah hati
Hati yang akan kuberikan untukmu.
Ntuk kamu nikahkan dengan hatimu

Sayang...
Aku tau ini hanya mimpi, mimpi bisa menikah denganmu
Karena ntuk memiliki jiwamu emang tak mungkin
Karena tak ada ruas di hatimu kini ntuk ku tempatkan hatiku yang putih itu
Sebab kamu menentangnya, karena kamu tak menginginkannya.

Sayang...
Menikahlah dengan hatiku
Karena tiap waktu hatiku ini ingin menyatu dengan hatimu
Walau jiwamu tak mungkin ku sentuh
Tapi hatimu telah mengetarkan hatiku dengan sentuhan ketulusanmu

Sayang...
Menikahlah dengan hatiku
Aku rela biarpun aku harus menunggu dalam dimensi waktu
Menjadi perhiasan hatimu

Dan sampai nanti kamu menikahi hatiku


28 August 2010

Aku Tertipu lagi

Langit yang ku lihat tak biru lagi warnanya
Ia sedikit kelabu dengan garisan-garisan jingga
Diriku pun tak tegak lagi berdiri,
Karena aku benar-benar letih Tuhan

Aku tak mampu lagi memapah diri ini
Tangis ini pun tak sanggup ku hentikan
Teriakan ini pun tak lagi bersuara lantang
Karena rasa sakit ini...cuma Engkau yang tahu
Aku benar-benar tertipu lagi.

Terserah...kali ini aku pasrah pada takdirmu
Jika ini memang takdir.
Hingga aku tak terus tersakiti dengan asa ini
dan tak tertipu lagi...
Mungkin ini lebih baik,
Menyendiri di sudut kota ini
dan ku tutup pintu hati, ntuk semua cinta, walau batin ini menangis...


19 June 2010

Itu Aku...

Itu aku,
Seorang perempuan yang selalu bawel untuk sebuah harapan
Seorang yang menginginkan kesempurnaan cinta
Seorang yang berpikir hidup untuk hari ini dan esok
Mengisi dan melakukan terus untuk yang lebih baik

Itu aku,
Jiwa itu pernah kosong
Keok pada fakta morgana dan surga dunia yang tak hakiki
Kecewa, patah hati dan hampir bunuh diri
Dosa konyol yang hampir terlakukan karena dia, cintaku

Itu aku,
Tak pernah yakin ketika memiliki
Tapi yakin akan tersakiti
Hmmm itu memang aku
Jiwa kosong itu makin melompong
Tak ada yang bertatah atau mengisinya

Itu aku,
Perempuan yang hilang harapan tapi masih menginginkan harapan
Perempuan yang coba berpura-pura kuat tapi rapuh
Perempuan yang coba tegak ketika tak mampu berdiri dengan satu kaki
Perempuan yang tegar saat sakit itu mengrogoti
Perempuan yang penuh misteri
Perempuan yang dibenci kemudian dicintai

Itu aku,
Coba ntuk lebih religi
Coba selalu dekat dengan Tuhanku
Coba menjadi botol kosong yang dibawa air
Coba ntuk menjadi diri sendiri
Coba ntuk pede
Coba ntuk segalanya yang baik...
Itu aku...


Untukmu...Ibuku

Merah, membara, ingin muntah lalu memakan korbannya
Rasanya ingin mengenyahkan tubuh renta itu
Seperti di hianati dan sakitnya tak terperi
Pengorbanan ku sia-sia padahal semuanya untuk mu
Agar hilang ketakutan mu, gundah mu
Kerut bingung di dahi mu
Lalu tak mengalir tetes dari mata mu
Saat semua orang tak perduli derita mu, bahkan anak mu sendiri
Kurang pengorbanan ku...?

Tak ku sapa diri mu saat berselisih
Hanya lirikan ekor mata sinis melihat sosok mu
Dan kau sepertinya merasakan kebencian ku
Terlihat begitu takut tuk melawan tatap garang ku
Memilih menyendiri di sudut rumah yang ku tumpangi
Bahkan berbicara dengan anak-anak ku pun hanya berbisik
Dan menahan kantuk mu saat aku belum tertidur
Runtuh seluruh bara di jiwa ku
Tersadar aku bahwa dia yang melahirkan ku pada 31 Mei, 32 tahun lalu
Terlintas begitu cepat apa yang telah dia lakukan untuk ku
Pengorbanan ku tak berarti apa-apa di banding pengorbanannya
Akh, jika tangan tua yang kini keriput itu dapat bercerita
Betapa mulai kasihnya, bahkan hingga kini
Lalu kaki yang kini seperti tak mampu lagi menopang tubuhnya
Ku takkan sesempurna ini tanpa cintanya
Dan keriput dengan mata yang hampir tak bisa melihat lagi
Adalah utusan Tuhan bagi anak-anaknya yang hingga kini belum membuatnya bahagia

Dia adalah perempuan yang mengorbankan seluruh hidupnya demi benih cintanya
Tak perduli rintang dan aral serta malu yang menerpa
Perjuangannya hanya dapat dibalas oleh sang empunya jiwa
Di kaki mu surga berada
Mama, aku minta maaf
Tuhan ampunkan aku yang begitu kejam pada ibuku
Bukakan hatinya ntuk menerima maafku
Maafkan khilaf dan sombongku, mama
Belum terlambat ku dapat pelajaran berarti ini
Semoga anak-anakku tak melakukan ini padaku kelak

Tuhan, panjangkan umurnya
Walau takkan semurni ikhlasnya tapi aku ingin berbagi dan berbakti
Beri waktu ku ntuk dapat melihatnya tersenyum bahagia
Takkan ku ulang kesalahan ini
Dan aku tak akan pernah siap jika ia pergi jauh
Mama sirami aku dengan doa-doa mu selalu
Teruslah di samping ku sampai kita sama-sama tua nanti
Mama, aku mencintai mu walau takkan pernah sebesar cinta mu kepadaku
Kita akan tetap bersama dan kau akan bahagia bersamaku
Mama... Sembah sujudku di haribaan Tuhan untuk mu


Mama Koe'
Dinda Bethari, Medan 22510

27 May 2010

Ntuk Mariyuanaku

(dindabethari, 25510, resah.... dinda bethari: puisi buat sembuh mu, mariyuana....)
Serasa ada yang hilang
Kemana dan di mana
Pertanyaan yang hanya di jawab oleh resah
Angin pun enggan berhembus
Tertarik oleh ritme sunyi
Aku merunduk di sudut sepi

Kau telah membuat rona
Raut hijau memancar
Tapi kau masih samar
Kau masih bersembunyi di balik malam
Berlindung di antara waktu
dan pertanyaan akan suatu jawaban

Mengapa
Ragu atau hanya semu
Rasa akan membawa kita
Tapi jika matahari bersinar
atau memang hitam
Aku harap kau tak menghindar
Karena ini realita yang dirasa
Aku akan terima walau ragu itu akan semu


15 May 2010

Membuka Hatiku Ntuk Dia

Ku cerna semua kata-katamu,
Baru kusadari cinta tak boleh dipaksakan
Ia mengalir seperti air...hingga akhirnya menyorok dimuara
Muara hatiku yang terdalam.
Kini aku mencoba membukanya untuk ditempati yang lain
Karena kita tak mungkin bersatu
Selagi kita terus mencari perbeda-perbedaan yang tak ada titik temunya itu
Dan untuk kebahagianmu, biarlah aku yang pergi
Mungkin ini jalan yang terbaik seperti pintamu
Mencinta tak harus memiliki
Tuhan segala keperihan dan kesedihan ini Engkau yang tau
Biar aku bawa hati ini untuk dimiliki orang lain
Kekasih yang membutuhkan aku
Kekasih yang bisa menerima sedikit hatiku ntuk menjadi sebagian untuk hidupnya
Karena waktu, tlah membuat ku kembali ntuk menempatkan dia
Di tatah hatiku, yang tlah terisi diri mu dan dia, kekasih baruku
Maafkan jika harus pergi...
Membuka hatiku ntuk dia yang membutuhkan aku
Karena menantimu, sudah cukup waktu ku ntuk itu




20 April 2010

Memoriam Tsunami dalam Polesan Wisata Islami






Teks Saniah LS
Sebut Aceh, maka terputarlah piringan kelam ‘film hitam-putih’ tentang peristiwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004. Seketika itu Aceh dikenal di luar maupun dalam negeri karena pemberitaan mengenai tragedi mengenaskan tersebut yang telah menelan korban 173.741 jiwa.

RENYUH hati ini. Bila saya mengenang kembali tragedi yang memilukan tepatnya 5 tahun silam itu, 26 Desember 2004. Seakan bau busuk mayat yang bergelimpangan di trotoar jalan, reruntuhan pertokoan, rumah, dan perkantoran masih tercium jelas, bila saya mengingat kembali memoar pahit tersebut.
Kampung kelahiran orangtua saya yang diluluhlantakan oleh goncangan gempa bumi dan dihempas gelombang tsunami yang setinggi 7 meter. Maka untuk mengenang momen memilukan itu, saya pun melancong tanoh Serambi Makkah melalui jalan darat dengan menggunakan bus pada malam hari. Tepatnya dua bulan yang lalu, pertenggahan Oktober 2009
Tepat pukul 5.30 WIB saya sudah tiba di terminal bus besar di Kota Banda Aceh, yang perjalanannya saya tempuh selama 12 jam. Kemudian singgah sebentar di warung kopi (warko) berlantai dua, Dhapu Kupi. Warkop bergaya minimalis itu berlokasi di Simpang Surabaya jaraknya sekitar 10 kilometer dari stasiun bus. Dari keterangan pelayan Dhapu Kupi, warkop ini buka 24 jam. Jadi apa salahnya sambil menunggu subuh menjelang pagi, saya pun mencoba menikmati kopi Aceh (Kopi Ulee Kareng) dengan beberapa potong roti selai.
Setelah menyeduh ‘si hitam’ dan membayar santapan saya itu dengan biaya yang tidak terlalu mahal yaitu Rp 7000, saya pun melanjutkan perjalanan menuju penginapan dengan menggunakan beca mesin menuju Jalan T. Nyak Arief. Tepat di depan Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, saya pun diturunkan di hotel ‘berbintang kecil’ yaitu Hotel Madinah. Range menginap di hotel ini lumayan murah dan hotelnya pun lumayan bersih.
O..ya sepanjang perjalanan menuju hotel, saya melihat Kota Banda Aceh raut wajahnya mulai berseri. Ibu kota Pemerintahan Aceh ini sudah tertata rapi dan bersih. Cuma ada satu hal yang menganggu mata yaitu bilboard dan spanduk di setiap sudut kota tertata semeraut, sehingga menutupi sebagian wajah kotanya. Seharusnya hal ini menjadi perhatian Pemerintah Kota Banda Aceh dalam hal penataan kotanya. Jika memang ingin menjadi Kota Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami Indonesia.
Suara ramai mesin kendaraan menderu, membangunkan saya dari tidur. Saya melirik jam, ternyata hari sudah mulai beranjak siang. Saya pun berpikir sudah cukup tidur tiga jam dan sudah saatnya saya bergegas ke kamar mandi, mandi dan berpakaian. Karena sebentar lagi beca mesin yang mengantakan saya tadi akan menjemput saya kembali.
Setelah siap dengan perlengkapan seperlunya, saya pun menuruni anak tangga dan segera keluar menemui si abang beca yang ternyata sudah 5 menit berada di halaman hotel sederhana ini. Sambil tersenyum saya pun mengatakan kepada abang beca tersebut, bahwa perjalanan saya akan dimulai dari sini. “Sudah lama bang?” tanya saya membuka pembicaraan. “Tidak, baru 5 menit saya sampai,” ujar Ahmad, nama dari abang beca itu yang juga akan menjadi guide saya saat di sini.
Sambil berjalan saya pun menanyakan kepada Ahmad kemana tujuan kami sekarang. “Kemana kita bang?” tanya saya ingin tahu. “Kita ke Museum Tsunami aja dulu,” usul Ahmad. Saya pun mengangguk setuju hingga akhirnya kami pun tiba di depan Museum Tsunami Aceh yang terletak bersebelahan dengan Lapangan Blang Padang.

Arsitetur Modern di Museum Tsunami Aceh
Tempat di depan Museum Tsunami Aceh, di Lapangan Blang Padang, bertenggernya Monumen Pesawat Dakota RI-001 Seulawah—pesawat yang disumbangkan rakyat Aceh untuk perjuangan RI—pesawat Dakota RI-001 ini juga cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan Niaga Pertama Indonesian Airways.
Pesawat ini selamat dari musibah 26 Desember 2004 silam. Kemudian keberadaan monument sejarah bagi rakyat Aceh ini pun di pindahkan posisinya ke sebelah kanan (kalau dulu sebelah kiri). Pesawat Dakota RI-001 Seulawah itu pernah menerbangkan Mohd. Hatta, Wakil Presiden pertama RI keliling Pulau Sumatera. Setelah memotret pesawat tersebut, saya pun melanjutkan langkah kaki saya ke Rumoh Aceh as Escape Hill.
Museum Tsunami ini memiliki banyak arti dalam perlambangannya. Gedung ini berbentuk persis kapal pesiar yang mendarat di pusat kota. Dibangun megah dan modern, berlantai 4 dengan fitur-fitur bangunan bercorak ke Islami. Atap Lantai bangunannya terlihat seperti ombak yang tersisir rapi. Saya terkagum dengan arsitektur bangunannya. Oh ya, dari sebuah situs internet ketika saya browsing sebelum melancong ke mari, untuk berwisata tsunami, bahwa hak cipta desain arsitektur Rumoh Aceh as Escape Hill itu dipegang oleh 4 orang yaitu Muahmmad Eidwan Kamil, Muhammad Yuliansyah Akbar, A.A. Putra Munchana, dan Asep Budiman.
Bagunan modern ini pengerjaannya sudah selesai namun sayang terlihat masih melompong (kosong), belum ada barang atau peralatan peninggalan tsunami yang dipamerkan di sini selayaknya museum lainnya. Sehingga saya dan beberapa pengunjung yang datang ke tempat ini hanya melihat bangunan arsitekturnya saya yang memang terpoles sangat modern.
Oh ya, sebuah infomasi di internet kalau bangunan yang dibangun di atas lahan 10.000 persegi ini dibangun dengan biaya Rp 140 miliar. Dana ini kucuran dari BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) yaitu Rp 70 miliar dari BRR dan sisanya Rp 70 miliar lagi dikucurkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI.

Ulee Lheu Kini..
Setelah dari Museum Tsunami Aceh, saya pun melanjutkan perjalanan ke Ulee Lheu Jalannya searah dengan jalan Iskandar Muda, di mana bangunan Museum Tsunami Aceh berada. Jalan ini juga jalan penghubung menuju pelabuhan penyeberangan ke Sabang. Dulu, Ulee Lheu tidak seindah sekarang ini, jalannya juga bagus dan megah.
Nah, di Ulee Lheu ini lah terdapat banyak spot wisata tsunami seperti Kantor Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana Tsunami Center, Masjid Baiturrahim (bangunan yang satu-satunya utuh yang selamat dihantam tsunami), Kuburan Massal, gedung keselamatan, dan alarm pendeteksi tsunami (early warning system). Banyaknya spot wisata tsunami terdapat di sini. Menjadikan Ulee Lheu sebagai salah satu pesisir pantai yang sering dikunjungi pelancong ketika Bertandang ke tempat ini untuk wisata tsunami. Oh ya, letak antara pusat kota dengan pantai Ulee Lheu tidak lah begitu jauh jaraknya. Hanya 5 menit perjalanan.
Setelah terlebih dahulu singgah ke kuburan massal untuk mendoakan para suhada yang meninggal dunia akibat bencan maut itu, saya pun melanjutkan kunjungan ke Masjid Baiturrahim. Namun saya ingin memberikan sedikit infomasi soal kuburan massal di Ulee Lheu. Kuburan di komplek pemakaman massal ini tidak terdapat batu nisan, tapi kuburan di sini berbentuk hamparan tanah kosong dengan rerumputan yang hidup di atasnya dan beberapa gundukan batu alam yang besar pada setiap sudut sisi pemakaman ini. Sementara tembok beton dengan tulisan Arab berwarna hijau berada pada setiap sisi membentuk pagar. Jadi tidak tampak benar seperti komplek pemakaman.
Sedangkan kenapa Masjid Baiturrahim Ulee Lheu selalu disinggahi para pelancong itu karena masjid ini satu-satunya bangunan yang selamat di daerah tersebut. Sementara bangunan lain yang berada disekitar sudah rusak parah dihantam tsunami. Di masjid ini juga terdapat beberapa pajangan foto mengenai peristiwa 26 Desember 2004. Foto-foto yang menjadi bukti bertapa dasyatnya bencana yang sempat melinangkan air mata masyarakat dunia itu terpajang dekat pintu masuk masjid yang ketika siang hari, saat terik, warna langitnya sangat biru. Kontras dengan warna dinding Masjid Baiturrahimnya.

Kapal Apung PLTD, Icon Tsunami
Tidak sempurna kunjungan Anda jika tidak singah Punge Blang Cut, di Kecamatan Meuraxa untuk melihat kapal Apung PLTD milik PLN berbobot 4.500 ton itu yang terdampar dari lautan ke daratan dengan jarak lebih kurang 5 kilometer. Tempat ini juga menurut cerita sudah dikunjungi para pembesar dan seleb dari luar negeri, seperti sekjen PBB; Kopi Anan, mantan presiden Amerika Serikat; George Bush dan Bill Clinton, Ratu Spanyol; Sofia dan Damaso Delario (Dubes Spanyol untuk Indonesia), Perdana Menteri Australia; Kevin Rud, dan Bintang laga Hong Kong, Jacky Chen.
Kehebohan tentang terdamparnya kapal milik PLN yang di datangkan dari Kalimantan Barat ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan kekurangan pasokan listrik warga Banda Aceh dan sekitarnya pada saat konflik ke daratan seolah menjadi keajaiban yang luar biasa. Menandakan kekuasaan Tuhan. Saya naik ke atas kapal dan berjalan menyelusuri setiap ruang kapal ini. Tempat tidur, ruang pacu, dan dapur masih terawat dengan baik.

Monumen Kapal Di Atas Rumah
Lampulo merupakan sebuah perkampungan nelayan yang lokasinya tidak jauh dari Penayong, pasar tradisional Aceh. Daerah ini masa gempa bumi dan tsunami dulu kondisinya sangat parah tidak jauh beda dengan kondisi di Punge Blang Cut maupun Ulee Lheu. Namun kini daerah yang dekat pantai ini kini sudah dibangun kembali rumah penduduk oleh NGO sehingga tempat ini pun jadi ramai kembali.
Saya datang ke tempat ini, yang menurut masyarakat sekitar juga sering dikunjungi pendatang dari luar Aceh yang ingin melihat langsung bagaimana kapal kayu yang berukuran besar itu bisa terdampar jauh dari darat dan terdampar di atas atap rumah penduduk yang sudah hancur. Dari amatan saya kalau kita menggunakan logika memang seperti tidak mungkin. Namun apa sih yang tidak mungkin kalau Tuhan berkeinginan lain.
Oh ya sewaktu saya ke mari, monument ini lagi poles dan kapal kayunya juga dicat ulang kembali sehingga lebih kelihatan baru. Sementara agar pengunjung bisa masuk ke kapal ikan tersebut dibuat sebuah jalan penghubung ke arah kapal yang berada di atap rumah itu.

Makam Kuburan Syiah Kuala
Saya tidak merasa lelah, rasa keinginan tahu saya terus membenak sehingga mendorong saya untuk terus meninjau spot-spot wisata tsunami tersebut. Akhirnya perjalanan saya berakhir di komplek kuburan seorang ulama terpandang Aceh yaitu Sheikh Abdul Rauf Al-Fansuri atau yang dikenal dengan sebutan Teungku Syiah Kuala. Ulama besar Aceh kelahiran 1537 M yang wafat pada usia 105 tahun (pada tahun 1696 M) dan kuburannya saat tsunami tidak mengalami kerusakan.
Menurut cerita yang berhembus, makam keramat ini naik di atas permukaan air, sehingga selamat dari kehancuran dan begitu juga dengan mushola di depan kuburan keramat ini. Kini makam aulia tersebut sudah dipoles menjadi sebuah komplek pemakaman yang sangat islami. Pengunjung yang bertandang kemari pun harus berbusana yang menutup aurat. Hal itu jelas tertera di depan pintu masuk makam. Makam ini dijaga oleh penjaga makam yang usianya sekitar 60 tahun. Pria tua berpeci ini akan memberi informasi tentang keberadan kuburan ini.

Mini Box:
Transportasi ke Aceh bisa dilalui dari darat dan Udara. Dari darat bisa menggunakan bus atau L300 dengan waktu perjalanan yaitu 12 jam. Sementara harga tiket bus dari Medan-Banda berkisar Rp 110.000- (bus biasa), Rp 130.000.- (bus ekspres), dan Rp 180.000,- ( bus dengan kursi 2:1), semua ber-AC. Sedangkan ongkos untuk L300 dari Medan-Banda Aceh sebesar Rp 120.000,-.
Saat ini pesawat yang terbang dari Polonia Medan ke Sultan Iskandar Muda-Blang Bintang yaitu Pesawat Garuda, Lion Air, dan Sriwijaya. Harga tiket pesawat sekali terbang dari Rp 400.000.- hingga Rp 700.000,- (sesuai kurs dollar). Jarak terbang dari Medan ke Kota Banda Aceh yaitu 45 menit. Sementara harga hotel di Kota Banda Aceh dari hotel kelas melati hingga berbintang 4 ber-range per malamnya yaitu Rp 180.000,- hingga Rp 900.000,-.

03 April 2010

Rindu Ayah

Ayah,
Fotomu terus aku pandang
Senyum ketulusan masih membalutku dalam kasih sayangmu
Aku ingat ayah...saat-saat inilah ayah terbaring dalam resah di rumah sakit
Aku mencoba mendongeng pada masa lalu keluarga kita
Sepeda tua yang sering ayah bawa saat ayah berpangkat Letda
hingga Aku dan adikku yang ayah bawa keliling kota
Kota yang mempertemukan ayah dengan ibuku
Yah...sakit hatiku, sakit Yah!
Sakit, saat kantong kerinduanku pecah tak mampu kebendung lagi
Aku sangat rindu Yah, rindu kepada ayah
Aku tak dapat membendung airmata ini
Mata yang selalu ayah tenangkan dalam kelembutan kasih sayang ayah
Yah...saat aku terjaga ditengah malam
Yang mampu kulakukan memanjatkan doa sambil menatap masa lalu kita
Dalam kepingan frame yang ku letakkan dalam kamar tidurku
Yah...
Lihat aku, aku akan menjadi seperti yang ayah pinta
Menjaga dan mengusir sepi ibu dalam tawa canda yang aku hias setiap saat
Karena aku tau ibu sangat sepi tanpa ayah
Di rumah penuh kenangan itu yang tak mampu dia tinggalkan untuk ikut bersamaku
Yah...
Tidurlah dengan tenang
Aku akan menina bobokan ayah dalam hantaran doa malamku
Yah...aku rindu..rindu padamu


20 March 2010

Jangan Biarkan Aku Sendiri

Aku tak ingin sendiri
Sebab sepi itu sangat menyakitkan
Namun lebih menyakitkan jika tak ada dia disampingku
Karena dia dapat merengkuhku saat letih
Menenangkan jiwaku saat resah
Dia juga mampu membuatku menjadi kuat dan tak rapuh
Maka itu aku tak ingin sendiri

Tapi sampai kapan aku harus sendiri
Atau apa aku memang tak pantas memiliki dan dimiliki?
Kenapa?
Apa karena aku tak pantas bahagia bersama orang yang aku cinta
Aku letih dan benar-benar letih jika harus terus sendiri
Sampai kapan sabar itu berbuah bahagia
Bahagia seperti mereka
Tuhan aku benar-benar letih
Panggil aku jika Engkau biarkan aku terus sendiri
Sehingga aku bisa bersama diri-Mu
Menjadi kekasih abadi-Mu
Peluk dan jangan biarkan aku tersesat lagi
Di bumi-Mu yang penuh sandiwara ini









28 February 2010

Ini yang Terakhir

Muak...mau muntah rasanya
Cukup ini yang terakhir
Jangan hubungi aku lagi
Ini yang terakhir
Karena aku benci kamu

Muak...mau muntah rasanya
Kamu seperti ular
Melilitku dengan jeratmu
Setelah tak berdaya melawan
Aku pun kau telan

Muak ...mau muntah rasanya
Cukup ini yang terakhir
Karena setelah ini aku tak ingin bertemu kamu lagi
Cukup ini yang terakhir
Karena setelah ini tak ada lagi itu
Cukup kau sakitiku
Ini yang terakhir untuk terus kau lukai.

Jeruji Besi

Aku ada dibalik tembok jeruji besi itu
Kau memenjarakan aku dengan pidana yang tak kulakukan
Aku tak terekspos media sebab salahku tak menjual
Aku juga bukan orang yang dikenal
Tapi aku korban
Korban dari ketidakadilan hukum di negeriku

Aku ada dibalik tembok jeruji besi itu
Menanti hari besar bangsaku
Hingga masa tahanan berkurang
Atau menanti keajaiban dalam khayal menjadi 'selebritas politik'
Dimana pedemo dengan lantang meneriakan kebebasanku
Tapi siapa aku?

Aku ada dibalik tembok jeruji besi itu
Tak lama, bebas itu akan kumiliki
Karena aku telah membayarnya dengan keikhlasanku
Karena aku merasa yakin, hidupku lebih tenang di sini
Dibalik tembok jeruji besi ini