(artikel ini sudah di terbitkan di Tabloid Modus Aceh edisi 31 Thn VII 2009 dalam rubrik Perempuan & Kesehatan)
Payudara sehat tidak dilihat dari seberapa besar ukuran yang dimilikinya.Tapi, bagaimana seorang wanita bisa dam mampu merawat payudaranya agar tetap kelihatan indah, kencang, besar, dan montok.
Saniah LS
Payudara merupakan aset berharga bagi seorang wanita. Apalagi jika dilihat dari fungsi utama yang berada pada bagian depan, untuk memproduksi air susu saat masa kehamilan. Dari segi estetika, perempuan dengan payudara yang indah dan kencang akan memiliki daya tarik bagi pria. Sebab para lelaki beranggapan, wanita dengan payudara indah dan kencang akan terlihat seksi. Benarkah?
Ocha, wanita berusia 25 tahun bercerita kepada media ini, Rabu, 18 November 2009. Sebagai perempuan menurut Ocha, payudara merupakan aset berharga bagi dirinya. Makanya Ocha sering melakukan perawatan secara alami. Misal sehabis mandi ia selalu melakukan pemijitan dengan menggunakan hand body. “Kalau aku cukup mengoleskan hand body sehabis mandi dan kemudian memijitnya. Tapi temanku ada yang memakai minyak bulus (minyak kura-kura),” ujarnya.
Perawatan lain yang dilakukan Ocha adalah dengan memilih bra berkualitas dan sesuai. “Aku memakai bra berkawat. Biar payudara berbentuk jadi tidak melebar. Namun jika mau tidur, aku melepaskan bra, biar payudaraku bisa ‘istirahat’ dengan baik,” jelasnya sambil mengatakan ukuran payudara idamannya sesuai ukuran tubuh.
“Ada temanku, ia kurang pede dengan ukuran buah dadanya yang besar dan katanya payudara dengan ukuran besar selain berat, bisa menjadi pusat perhatian mata ‘nakal’ para pria.”
Langkah Perawatan
Ada banyak cara bisa dilakukan wanita untuk mempercantik dan mengencangkan payudaranya agar tetap sehat, indah, kencang atau besar dan montok. Seperti apa?
1) Minyak Bulus
Minyak bulus dipercaya bisa merangsang peredaran darah dan menyingkirkan racun (toksin) pada kelenjar payudara, selain mempercantik, mengencangkan dan membesarkan. Cara perawatannya; oleskan minyat bulus pada bagian atas dan bawah dengan jarak 3 jari. Setelah itu lakukan pemijitan dengan menggunakan jari jempol dan telunjuk dengan gerakan kecil memutar dari bawah ke atas. Atau lakukan dengan teknik menekan; setelah minyak dioles sekitaran payudara (jangan kena puting), kemudian teknik menekan dilakukan dengan cara posisi kedua tangan berada ditepi bagian luar buah dada dan kemudian usap sambil menekan menuju ke atas (ke arah puting), dengan secara perlahan sebanyak tujuh kali.
2) Minyak Zaitun
Minyak zaitun kasiatnya untuk menjaga kelembaban kulit sekitaran payudara, juga mengecangkan payudara. Caranya; oleskan minyak zaitun disekitaran nenen kemudian lakukan pemijatan ringan dengan gerakan yang lembut lakukan itu sehabis mandi setiap harinya.
3) Bra (BH/Coli)
Kenakan bra yang bisa menjaga bentuk payudara tetap indah, pilihlah bra dengan kualitas kawat yang bisa menyangah buah dada dengan baik sehingga membentuk dengan indah, tidak melebar ke samping atau ke bawah. Juga pilihlah ukuran BH sesuai ukuran payudara Anda, agar bisa menampung buah dada dengan baik. Dan ketika tidur, dianjurkan tidak mengenakan BH agar buah dada bisa ‘beristirahat’ secara leluasa.
4) Pembersihan dan Senam
Pembersihan juga perlu dilakukan, secara rutin dengan melakukan pembersihan disekitaran daerah puting. Caranya; basahi kapas dengan air hangat kemudian bersihakan daerah sekitaran puting sambil menekan perlahan. Selain pembersihan, perawatan juga bisa dilakukan dengan senam ringan secara rutin dengan gerakan memperkuat otot dada.
5) Minyak Vitamin E
Agar otot payudara kencang dan kulit sekitaranya segar dan bersih maka oleskan minyak vitamin E dengan cara; campurkan satu sendok teh minyak tadi dengan yoghurt dan telur, kemudian aduk sampai merata. Setelah itu oleskan ramuan tersebut pada buah dada Anda dan lakukan pemijitan dengan lembut. Setelah itu gunakan BH, agar ramuan tersebut bisa meresap dengan baik. Biarkan selama 20 menit. Setelah itu bilas dengan air hangat. Lakukan itu secara rutin maka Anda akan mendapakan payudara yang kencang dengan kulit sekitarannya yang bersih dan segar.
Herbal Juga Bisa Bikin Indah dan Besar
Tumbuhan herbal sekarang ini juga telah dipergunakan untuk memperindah dan memperbesar payudara. Demikian seperti yang dikemukakan TM. Habibi AB kepada MODUS ACEH di Herbal Medical Jalan Tgk. Daud Bereueh, Banda Aceh, Rabu pekan lalu. “Perawatan yang dilakukan yaitu dengan cara memoles minyak oles Medical Herbal disekitaran payudara dan kemudian dilakukan pemijitan selama tujuh hingga delapan menit. Setelah itu dibilas dengan air hangat,” jelas pria berusia 33 tahun tersebut.
Masih dari keterangannya, perawatan yang dilakukan dianjurkan tiga kali sehari. “Boleh dua hari sekali, tapi sebaiknya tiga kali. Ini agar hasilnya bagus.” Sarannya lagi, pemolesan minyak dilakukan sebaiknya selesai mandi. Sedangkan menurut tabib ini lebih baik wanita mulai melakukan perawatan sejak berusia remaja. “Ibu-ibu menyusui juga perlu melakukan perawatan, agar payudaran tetap kencang dan tidak kendor,” katanya sambil mengatakan sebelum memberi obat, pasien lebih dulu dicek tensi darah dan penyakit lainnya.
Oh ya selain memoles minyak pada payudara, pasien juga dibekali serbu atau kapsul herbal untuk diminum. “Biasanya saya memberikan satu set obat yaitu minyak poles dan obat untuk diminum dalam bentuk serbuk atau kapsul. Kapsul dipilih jika pasien susah untuk menelan serbuk. Semua obat-obatan ini kita racik sendiri secara alami dengan menggunakan tumbuhan herbal seratus persen.”
Setelah 15 atau 20 hari, papar tabib yang mengenakan baju koko dan kupiah hitam saat praktek ini, hasilnya pun akan terlihat, buah dada menjadi indah, kencang, atau membersar, dan montok. “Dengan melakukan perawatan herbal maka kaum hawa tidak perlu cemas karena tidak ada efek samping,” tutupnya sambil menegaskan bahwa Aceh sangat kaya tumbuh-tumbuhan herbal.***
Kala Matahari menarik selimut mencari kehangatan, Rembulan senandungkan nyanyian hati untuk sang Mataharinya....
07 December 2009
18 November 2009
Rumah Tanggaku Panggung Sandiwara
(Artikel ini sudah diterbitkan di Tabloid Modus Aceh Edisi 21 Thn VII)
Setelah mengarungi rumah tangga hampir 10 tahun sejak 1999, Dedy (nama samaran- red) tak pernah dianggap sebagai suami oleh Ina (nama samaran-red). Sang istri lebih penurut dengan keluarganya dari pada Dedy sebagai suami. Akibatnya, rumah tangga yang dijalani Dedy tak lebih hanya panggung sandiwara.
Saniah LS
Persis, 15 Juli 1999, Dedy menikahi Ina. Usia mereka hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Ina. Saat itu, Dedy berusia 26 tahun sedangkan Ina berusia 28 tahun.
Entah kenapa Dedy menerima saja coblangan tetangganya itu, padahal ia belum begitu kenal dengan Ina dan keluarganya dengan baik. Setelah tiga bulan pedekate tanpa pacaran dan dengan modal Rp 5 juta, Dedy pun memenuhi hasrat untuk berumah tangga. Dipersuntingnya dara kelahiran Pidie itu.
Kepada MODUS ACEH, 1 September lalu, Dedy berkisah. Rumah tangga yang dijalaninya tidak sesuai dengan hasrat dan keinginanya, membentuk rumah tangga yang harmonis, sakinah ma waddah wa rakhmah sebagai mana impian Dedy. Rumah tangga yang dibangun Dedy tak ubahnya bagai panggung sandiwara. Didepan kedua anaknya, Dedy berlakon seolah ia dan Ina hidup harmonis. Namun setelah anak-anak mereka tidur, pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi.
Pemicu permasalahan dari awal pernikahan kedua anak manusia yang berlainan jenis ini adalah, karena faktor ikut campurnya keluarga istri dalam rumah tangga Dedy dan Ina. Dedy berpikir waktu itu karena penghasilannya pas-pasan, ia pun tinggal di rumah mertuanya. Tinggal serumah dengan mertua memang kadang ada enak juga tidak. Hingga akhirnya setelah mengumpulkan duit yang tidak sedikit jumlahnya Dedy pun membangun ‘istananya’ di atas tanah pemberian mertuanya.
Namun, setelah mereka (Dedy dan Ina) pindah ke rumah baru, ternyata masalah belum juga selesai. Walau tidak tinggal serumah lagi dengan mertuanya, ternyata sang istri juga tidak pernah berubah. Sebagai kepala keluarga, apapun ucapan Dedy tidak pernah didengar si istri. Ina malah makin menjadi-jadi. Sekarang Ina malah tidak mengurus segala kebutuhan Dedy sebagai suami. Dari pengakuan Dedy (maaf), Ina pun jarang meladeni Dedy dalam urusan kebutuhan bathin.
“Kalau saya mulai kearah itu, ia pun mulai mengamuk dan marah tak tentu arah. Saya mulai curiga barang kali istri saya itu sudah memiliki pria idaman lain. Saya pun menyelidikinya, tapi prasangka saya itu tak ada bukti yang kuat,” tutur Dedy.
Masih cerita Dedy lagi pada Media ini, Ina sekarang lebih asyik dengan dunianya sendiri. Dedy tidak tahu lagi bagaimana cara untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya yang sudah terlanjur hambar. “Pernah saya lari ke narkoba, waktu itu saya tidak tahu harus berbuat apalagi. Kalau tidak pikir anak, mungkin saya akan pergi dari rumah itu. Yang herannya makin saya coba memperbaiki agar rumah tangga kami semakin membaik, tapi yang ada malah semakin memburuk,” ujar Dedy sambil menyulup asap rokoknya dalam-dalam. Kata dia, “Kini yang saya rasakan adalah perasaan hampa dan hambar. Rumah tangga impian saya ternyata tidak seindah yang saya bayangkan,” ungkap pria 40-an itu. Dedy adalah staf pengajar pada satu perguruan swasta yang ada di Banda Aceh.
Pemuda asal Aceh Utara ini pun tak habis pikir, kenapa sang istri bisa seperti itu, terlalu cuek dengan suami dan bila mengambil keputusan tetang permasalahan rumah tangga tanpa komporomi terlebih dahulu kepada suami selaku kepala keluarga. Ina lebih banyak mengikuti apa kata kedua orangtua dan keluarganya. “Saya merasa sebagai suami yang tak dianggap keberadaannya. Saya benar-benar sudah hampa,” beber Dedy lagi dengan raut kekecewaan.
Kalau dilihat dari penampilannya, pria berusia hampir setengah abad itu terkesan seperti orang yang tak terurus. Padahal kalau untuk soal cari nafkah buat keluarga, Dedy tipekal pria yang bertanggungjawab. Dari semula penghasilannya Rp 300 per bulan (tahun 1999) hingga sekarang ia bisa membangun rumah dengan ukuran 11 x 12 meter di atas tanah milik mertuanya itu. Hmmm…lumayan mewah.
Dedy ingin menjerit sekuat-kuatnya dengan dilema rumah tangganya itu. Kini yang ia rasakan kesendirian, kedua anak-anak itu masih kecil belum bisa dijadikan tempat curhat. Sementara keluarganya sudah lama meninggalkan dirinya. Karena ketidak-cocokan dengan keluarga istrinya. “Kalau keluarga saya datang ke Banda Aceh mereka akan lebih memilih tinggal di hotel atau di rumah saudara saya yang lain ketimbang tinggal di rumah saya. Entahlah, saya sudah pasrah dengan semua ini,” katanya sedikit berputus asa.
Pemicu ketidak-cocokan keluarga Dedy dengan pihak keluarga istrinya berawal pada tanggal 17 Juli 1999 silam. Ketika itu, ada acara tung dara baro (penerimaan pengantin perempuan di rumah penganti pria---red). Acara itu berlansungkan di kediaman orangtua Dedy, di Aceh Utara. Acara adat tadi menoreh luka yang terus diingat keluarganya. Sebab, kakak sulung Ina yang belum menikah, di depan para tamu dan kerabat Dedy, saat itu tiba-tiba saja mengamuk dan protes.
Si kakak tidak terima dirinya dilangkahin sang adik. Dia pun meminta agar perkawinan itu di batalkan. Sang kakak protes dan malah ia pun minta dikawinkan oleh Dedy, dia bersedia dipoligamikan. Jelas ini membuat berang keluarga Dedy kecewa dan kaget. Nah, berawal dari sinilah hubungan yang semula harmonis antara dua keluarga, tiba-tiba menjadi retak. Keluarga Dedy merasa dipermalukan.
Sementara pada acara intat linto (antar pengantin pria---red), tanggal 15 Juli 1999, pesta perkawinan berlangsung sukses di kediaman Ina di Pidie. Tapi, siapa sangka, acara tung dara baro di kediaman orangtua Dedy, malah keluarga Dedy dipermalukan dengan peristiwa itu. Apalagi, ketika keluarga Dedy merasa sang anak lebih peduli dengan keluarga istrinya ketimbang orangtuanya. Terutama saat Dedy membangun rumah di atas tanah mertuanya itu.
“Ibu saya sempat berucap, bangun saja rumah istrimu itu, jangan peduli dengan rumah orangtuamu ini. Biarkan saja rumah yang semakin tua ini roboh dengan sendirinya,” bebernya sedih. Dari keterangan Dedy, sebelum membangun rumahnya itu, Dedy sudah meminta izin dengan orangtuanya. Namun setelah rumah jadi terucap lah kata-kata yang miris itu.
Pasrah? Begitulah hari-hari yang saya jalani. “Sekarang dunia saya, kerja dan anak. Lain sudah tak saya pikirkan lagi. Saya jalani saja sekarang ini apa adanya. Dan yang saya coba perbaiki hubungan baik saya dengan ibu. Semoga saja hati ibu luluh dan mau memaafkan saya,” tutupnya sambil terus menghisap rokok kretek yang sudah 3 batang ia habiskan dalam waktu 3 jam.
Setelah mengarungi rumah tangga hampir 10 tahun sejak 1999, Dedy (nama samaran- red) tak pernah dianggap sebagai suami oleh Ina (nama samaran-red). Sang istri lebih penurut dengan keluarganya dari pada Dedy sebagai suami. Akibatnya, rumah tangga yang dijalani Dedy tak lebih hanya panggung sandiwara.
Saniah LS
Persis, 15 Juli 1999, Dedy menikahi Ina. Usia mereka hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Ina. Saat itu, Dedy berusia 26 tahun sedangkan Ina berusia 28 tahun.
Entah kenapa Dedy menerima saja coblangan tetangganya itu, padahal ia belum begitu kenal dengan Ina dan keluarganya dengan baik. Setelah tiga bulan pedekate tanpa pacaran dan dengan modal Rp 5 juta, Dedy pun memenuhi hasrat untuk berumah tangga. Dipersuntingnya dara kelahiran Pidie itu.
Kepada MODUS ACEH, 1 September lalu, Dedy berkisah. Rumah tangga yang dijalaninya tidak sesuai dengan hasrat dan keinginanya, membentuk rumah tangga yang harmonis, sakinah ma waddah wa rakhmah sebagai mana impian Dedy. Rumah tangga yang dibangun Dedy tak ubahnya bagai panggung sandiwara. Didepan kedua anaknya, Dedy berlakon seolah ia dan Ina hidup harmonis. Namun setelah anak-anak mereka tidur, pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi.
Pemicu permasalahan dari awal pernikahan kedua anak manusia yang berlainan jenis ini adalah, karena faktor ikut campurnya keluarga istri dalam rumah tangga Dedy dan Ina. Dedy berpikir waktu itu karena penghasilannya pas-pasan, ia pun tinggal di rumah mertuanya. Tinggal serumah dengan mertua memang kadang ada enak juga tidak. Hingga akhirnya setelah mengumpulkan duit yang tidak sedikit jumlahnya Dedy pun membangun ‘istananya’ di atas tanah pemberian mertuanya.
Namun, setelah mereka (Dedy dan Ina) pindah ke rumah baru, ternyata masalah belum juga selesai. Walau tidak tinggal serumah lagi dengan mertuanya, ternyata sang istri juga tidak pernah berubah. Sebagai kepala keluarga, apapun ucapan Dedy tidak pernah didengar si istri. Ina malah makin menjadi-jadi. Sekarang Ina malah tidak mengurus segala kebutuhan Dedy sebagai suami. Dari pengakuan Dedy (maaf), Ina pun jarang meladeni Dedy dalam urusan kebutuhan bathin.
“Kalau saya mulai kearah itu, ia pun mulai mengamuk dan marah tak tentu arah. Saya mulai curiga barang kali istri saya itu sudah memiliki pria idaman lain. Saya pun menyelidikinya, tapi prasangka saya itu tak ada bukti yang kuat,” tutur Dedy.
Masih cerita Dedy lagi pada Media ini, Ina sekarang lebih asyik dengan dunianya sendiri. Dedy tidak tahu lagi bagaimana cara untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya yang sudah terlanjur hambar. “Pernah saya lari ke narkoba, waktu itu saya tidak tahu harus berbuat apalagi. Kalau tidak pikir anak, mungkin saya akan pergi dari rumah itu. Yang herannya makin saya coba memperbaiki agar rumah tangga kami semakin membaik, tapi yang ada malah semakin memburuk,” ujar Dedy sambil menyulup asap rokoknya dalam-dalam. Kata dia, “Kini yang saya rasakan adalah perasaan hampa dan hambar. Rumah tangga impian saya ternyata tidak seindah yang saya bayangkan,” ungkap pria 40-an itu. Dedy adalah staf pengajar pada satu perguruan swasta yang ada di Banda Aceh.
Pemuda asal Aceh Utara ini pun tak habis pikir, kenapa sang istri bisa seperti itu, terlalu cuek dengan suami dan bila mengambil keputusan tetang permasalahan rumah tangga tanpa komporomi terlebih dahulu kepada suami selaku kepala keluarga. Ina lebih banyak mengikuti apa kata kedua orangtua dan keluarganya. “Saya merasa sebagai suami yang tak dianggap keberadaannya. Saya benar-benar sudah hampa,” beber Dedy lagi dengan raut kekecewaan.
Kalau dilihat dari penampilannya, pria berusia hampir setengah abad itu terkesan seperti orang yang tak terurus. Padahal kalau untuk soal cari nafkah buat keluarga, Dedy tipekal pria yang bertanggungjawab. Dari semula penghasilannya Rp 300 per bulan (tahun 1999) hingga sekarang ia bisa membangun rumah dengan ukuran 11 x 12 meter di atas tanah milik mertuanya itu. Hmmm…lumayan mewah.
Dedy ingin menjerit sekuat-kuatnya dengan dilema rumah tangganya itu. Kini yang ia rasakan kesendirian, kedua anak-anak itu masih kecil belum bisa dijadikan tempat curhat. Sementara keluarganya sudah lama meninggalkan dirinya. Karena ketidak-cocokan dengan keluarga istrinya. “Kalau keluarga saya datang ke Banda Aceh mereka akan lebih memilih tinggal di hotel atau di rumah saudara saya yang lain ketimbang tinggal di rumah saya. Entahlah, saya sudah pasrah dengan semua ini,” katanya sedikit berputus asa.
Pemicu ketidak-cocokan keluarga Dedy dengan pihak keluarga istrinya berawal pada tanggal 17 Juli 1999 silam. Ketika itu, ada acara tung dara baro (penerimaan pengantin perempuan di rumah penganti pria---red). Acara itu berlansungkan di kediaman orangtua Dedy, di Aceh Utara. Acara adat tadi menoreh luka yang terus diingat keluarganya. Sebab, kakak sulung Ina yang belum menikah, di depan para tamu dan kerabat Dedy, saat itu tiba-tiba saja mengamuk dan protes.
Si kakak tidak terima dirinya dilangkahin sang adik. Dia pun meminta agar perkawinan itu di batalkan. Sang kakak protes dan malah ia pun minta dikawinkan oleh Dedy, dia bersedia dipoligamikan. Jelas ini membuat berang keluarga Dedy kecewa dan kaget. Nah, berawal dari sinilah hubungan yang semula harmonis antara dua keluarga, tiba-tiba menjadi retak. Keluarga Dedy merasa dipermalukan.
Sementara pada acara intat linto (antar pengantin pria---red), tanggal 15 Juli 1999, pesta perkawinan berlangsung sukses di kediaman Ina di Pidie. Tapi, siapa sangka, acara tung dara baro di kediaman orangtua Dedy, malah keluarga Dedy dipermalukan dengan peristiwa itu. Apalagi, ketika keluarga Dedy merasa sang anak lebih peduli dengan keluarga istrinya ketimbang orangtuanya. Terutama saat Dedy membangun rumah di atas tanah mertuanya itu.
“Ibu saya sempat berucap, bangun saja rumah istrimu itu, jangan peduli dengan rumah orangtuamu ini. Biarkan saja rumah yang semakin tua ini roboh dengan sendirinya,” bebernya sedih. Dari keterangan Dedy, sebelum membangun rumahnya itu, Dedy sudah meminta izin dengan orangtuanya. Namun setelah rumah jadi terucap lah kata-kata yang miris itu.
Pasrah? Begitulah hari-hari yang saya jalani. “Sekarang dunia saya, kerja dan anak. Lain sudah tak saya pikirkan lagi. Saya jalani saja sekarang ini apa adanya. Dan yang saya coba perbaiki hubungan baik saya dengan ibu. Semoga saja hati ibu luluh dan mau memaafkan saya,” tutupnya sambil terus menghisap rokok kretek yang sudah 3 batang ia habiskan dalam waktu 3 jam.
11 November 2009
Bundaku...
Oleh Saniah LS
Bunda,
Jiwa Nanda resah dan galau pagi itu
Entah kenapa dan mengapa...
Separuh jiwa dan pikiran itu..., ia tak mampu aku usir untuk pergi
Hingga jari-jari ini pun menekan tuts handphone 'ntuk menyapa bunda pagi itu
Bunda,
Ternyata di sana bunda lagi memikirkan aku
Memikirkan masa depan dan tuaku nanti
Seorang kuli tinta yang menurut bunda penghasilannya pas-pasan.
Tak ada gaji pensiunan seperti PNS dimasa tuanya, walau kerjaku juga pengabdian.
Tapi aku punya pahala bunda, yang bisa aku bawa diakhirat nanti.
Bunda jangan menangis ya, ini adalah pilihan hidupku
Dan jangan karena ini, tak akan Aku biarkan air itu ruah lagi dipipi bunda
Meski wajah itu kian keriput, tak akan dan tak akan,
Karena budan sangat berarti dalam hidupku.
Bunda,
Setelah ayah pergi, kini cuma bunda yang aku miliki
Sumpah! Aku sangat bahagia bunda
Karena kasih sayang bunda seperti lentera
Pelukan bunda, sumber energi dalam jiwa ini
Belaian bunda, suplemen penghilang gundah dan gelisah saat aku rapuh meniti hidup ini
Bunda adalah permata yang terindah yang aku miliki
Tak akan kubiarkan cahaya redup walau nanti mata ini akan terpejam,
Walau rongga ini tak bernafas lagi,
Walau tubuh ini berbalut kafan nanti.
Aku akan balut permata itu dalam jiwa ini dengan kasih sayang yang kumiliki, seutuhnya.
Bunda,
Berdoalah untuk hidupku
Agar Tuhan selalu bersamaku
Menjagaku seperti bunda menjagaku
Menyayangi aku seperti bunda menyayangi aku
Membimbing aku dan menghidupkan lentera hatiku
Hingga malaikat maut menjemputku,Amin!
Bunda,
Jangan menangis lagi ya,
Percayalah aku sudah cukup bahagia dengan apa yang aku miliki kini
Aku pun bersyukur kepada Tuhan, karena aku memiliki ibu seperti bunda
Dan tersenyum lah kini bunda, karena senyum bunda 'pil kuat'
'Ntuk aku melalui hari-hariku kini..
Love you bunda..love you so much!
18 October 2009
Puisi Panjang di Malam yang Panjang
Oleh Saniah LS
Sendiri,
Sepi itu bagai badai yang datang silih berganti
Gemuruhnya terus berhembus kencang sehingga mengolengkan kapal cintaku
Aku sendiri dan merasakan kesendirian itu lagi
Hingga sunyi itu pun datang lagi dalam kesendirianku
Kala malam,
Nyanyian angin malam tak terdengar riuhnya
Tak ada bisikan senandung gairah, karena
Tak ada sahabat
Tak ada kekasih
Tak ada keluarga
Tak ada yang mempedulikan kesendirianku.
Menyorok dan mengurung diri diruang hampa
Separuh gelap dengan sebiji lilin bercahaya temerem
Duduk bersila, lalu aku merenung di kamar tidur yang tersekat.
Air bening itu jatuh, tidak sampai kelantai
Bertengger pada pipiku, dingin
Sedingin hatiku kini.
Ada gerak kecil pada kelopak mata
Menahan bendungan air bening itu tak terjatuh lagi
Tapi tidak untuk malam ini.
Kadang sadar, kadang setengah sadar.
Bisik lah suara hati itu
"Aku tidak boleh begini dan merasa sendiri"
Ada Tuhan, Ia bersamaku kapan dan dimana saja yang kuinginkan
Tuhan juga melihatku dan merasakan kepiluan hatiku
Kadang Tuhan mengujiku, apa aku mengingat-Nya?
Akhirnya zikir itu kulantunkan
Dalam suara yang pilu
Dan bersama air bening yang coba ditahan
Bendungan itu retak dan pecah
Ia jatuh dalam kesadaran dan penyesalan
Ternyata dalam kesusahan, kesediahan, kepiluan dan kesendirianku
Ada Tuhan yang menemaniku.Astaghfirullah…
Zikir itu kusambung lagi, terucap diujung bibir yang pucat
Zikir itu akhirnya telah menina bobokan kepiluan hatiku di malam yang panjang.
Dalam malam yang semakin pekat dan gulita
Ada cahaya yang terus bersinar dan berbinar
Cahayanya tak redup, selagi aku menghidupkan lentera hatiku itu,
Karena dalam kesendirian dan kesedihan itu, ternyata Tuhan menemaniku.
Sendiri,
Sepi itu bagai badai yang datang silih berganti
Gemuruhnya terus berhembus kencang sehingga mengolengkan kapal cintaku
Aku sendiri dan merasakan kesendirian itu lagi
Hingga sunyi itu pun datang lagi dalam kesendirianku
Kala malam,
Nyanyian angin malam tak terdengar riuhnya
Tak ada bisikan senandung gairah, karena
Tak ada sahabat
Tak ada kekasih
Tak ada keluarga
Tak ada yang mempedulikan kesendirianku.
Menyorok dan mengurung diri diruang hampa
Separuh gelap dengan sebiji lilin bercahaya temerem
Duduk bersila, lalu aku merenung di kamar tidur yang tersekat.
Air bening itu jatuh, tidak sampai kelantai
Bertengger pada pipiku, dingin
Sedingin hatiku kini.
Ada gerak kecil pada kelopak mata
Menahan bendungan air bening itu tak terjatuh lagi
Tapi tidak untuk malam ini.
Kadang sadar, kadang setengah sadar.
Bisik lah suara hati itu
"Aku tidak boleh begini dan merasa sendiri"
Ada Tuhan, Ia bersamaku kapan dan dimana saja yang kuinginkan
Tuhan juga melihatku dan merasakan kepiluan hatiku
Kadang Tuhan mengujiku, apa aku mengingat-Nya?
Akhirnya zikir itu kulantunkan
Dalam suara yang pilu
Dan bersama air bening yang coba ditahan
Bendungan itu retak dan pecah
Ia jatuh dalam kesadaran dan penyesalan
Ternyata dalam kesusahan, kesediahan, kepiluan dan kesendirianku
Ada Tuhan yang menemaniku.Astaghfirullah…
Zikir itu kusambung lagi, terucap diujung bibir yang pucat
Zikir itu akhirnya telah menina bobokan kepiluan hatiku di malam yang panjang.
Dalam malam yang semakin pekat dan gulita
Ada cahaya yang terus bersinar dan berbinar
Cahayanya tak redup, selagi aku menghidupkan lentera hatiku itu,
Karena dalam kesendirian dan kesedihan itu, ternyata Tuhan menemaniku.
Dimana Hatimu?
Oleh Saniah LS
Dimana hatimu?
Saat aku memohon untuk dicintai dirimu
Saat aku memelas untuk terus bersamamu
Saat aku meminta untuk kau lupakan dia
Saat aku meminta kerelaan hatimu memberiku ruang dihatimu, walau sedikit
Dimana hatimu?
Ketika hati ini terus kau cabik, kau sakiti
Ketika waktu membawa dirimu melepas rindu bersamanya
Aku tersakiti, dimana hatimu?
Aku merenung dalam bentangan sajadah
Bersujud..memohon dalam doa, hingga Tuhan mematikan asa ini
Bersujud..memohon dalam doa hingga tiada tangis dipekatnya malam
Bersujud..memohon agar sadar itu ada dan berbicara
Bahwa cintamu memang bukan untukku.
Dimana hatimu?
Saat aku memohon untuk dicintai dirimu
Saat aku memelas untuk terus bersamamu
Saat aku meminta untuk kau lupakan dia
Saat aku meminta kerelaan hatimu memberiku ruang dihatimu, walau sedikit
Dimana hatimu?
Ketika hati ini terus kau cabik, kau sakiti
Ketika waktu membawa dirimu melepas rindu bersamanya
Aku tersakiti, dimana hatimu?
Aku merenung dalam bentangan sajadah
Bersujud..memohon dalam doa, hingga Tuhan mematikan asa ini
Bersujud..memohon dalam doa hingga tiada tangis dipekatnya malam
Bersujud..memohon agar sadar itu ada dan berbicara
Bahwa cintamu memang bukan untukku.
Subscribe to:
Posts (Atom)