25 July 2008

Penodongan Wartawan di Aceh

KRONOLOGIS KASUS PENODONGAN WARTAWAN
(Ini kejadian yang menimpa abangda-bangdaku di Aceh, semoga kesewenang-wenangan tidak terjadi ladi pada wartawan maupun masyarakat umum, biarkan Aceh damai dengan tentram...)
------------ --------- --------- --------- --------- ---------
Pada tanggal hari Selasa tanggal 22 Juli 2008, sekitar pukul 4:30 subuh, telah terjadi insiden penodongan senjata laras panjang terhadap 4 orang jurnalis Aceh dan 1 orang supir di jalan Provinsi yang menghubungkan Aceh dan Sumatera Utara, tepatnya di desa Indrapuri, Aceh Besar, Aceh.

Kejadian penodongan tersebut menimpa 4 wartawan Aceh dan 1 orang supir yang baru tiba dari Meulaboh, Aceh Barat untuk melakukan peliputan proses rekonstruksi pasca Tsunami. Mereka di todong oleh seorang tentara berseragam lengkap dan menggunakan senjata laras panjang jenis M-16. Dan setelah dilakukan penelusuran, kedua tentara tersebut merupakan anggota TNI dari kesatuan Yonif Zipur 16 Dhika Anoraga Aceh

Nama-nama wartawan dan supir yang menjadi korban penodongan adalah sebagai berikut;

1. Ampelsa, Fotografer Kantor Berita Antara
2. Jaka Rasyid, Wartawan Harian Waspada terbitan Medan
3. Bayhaqi, Wartawan Harian Aceh
4. Hotli Simanjuntak, Kontributor Trans7 wilayah Aceh
5. Amran. (Supir)

Berikut kronologis kejadian penodongan senjata terhadap 4 jurnalis Aceh dan supir.

Sekitar pukul 21:00 WIB, ke-4 wartawan dan 1 orang supir yang baru selesai melakukan peliputan serah terima bantuan di Desa Tungkop, Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat berangkap pulang ke Banda Aceh melalui lintas Meulaboh-Geumpang dengan menggunakan mobil Inova berwarna hitam, BK 1648 TV. Selama dalam perjalanan, tidak ada ganguan dan sempat singgah di beberapa daerah untuk istirahat dan minum kopi.

Sekitar pukul 4:30, rombongan tiba di desa Indrapuri, Aceh Besar. Saat sedang melaju dengan kecepatan sedang, tiba-tiba 2 oknum TNI berseragam lengkap dan bersenjata laras panjang menghentikan kendaraan. Bahkan salah seorang tentara yang bersenjata sempat mengetuk mobil dengan menggunakan senjata. Sesaat kemudian supir segera menghentikan kendaraan di tepi jalan.

Dengan senjata teracung, oknum TNI yang teridentifikasi dengan nama Ermanto menyuruh penumpang yang duduk di bangku depan, yaitu Baihaqi untuk membuka jendela.
Saat jendela di buka, Oknum TNI terebut langsung mengarahkan moncong senjata ke leher Supir sambil memerintahkan untuk mematikan mesin Mobil. Sementara teman Ermanto tetap duduk di atas sepeda motor king yang mereka kendarai.

Kemudian dengan nada membentak, Oknum TNI bernama Ermato membentak dengan kata “Kalian KPA ya” sambil mengacungkan senjata ke arah Bahaqi dan menyuruh penumpang turun dari kendaraan.

Namun karena pintu tertahan, para penumpang tidak bisa turun dari pintu sebelah kiri mobil.

Untuk mengetahui maksud dan tujuan kedua oknum TNI tersebut, Hotli Simanjuntak turun dari mobil melalui pintu kanan dan menjumpai kedua oknum tersebut. Tapi secara mendadak, Oknum TNI bernama Ermanto langsung mengarahkan senjata ke arah kening sambil berteriak:
“Saya benci orang Aceh. Dua teman saya mati di tembak GAM, saya benci Orang Aceh”
Melihat senjata diarahkan ke kening, serta merta Hotli Simanjuntak mengangkat tangan dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Beberapa saat kemudian, Ampelsa juga turun untuk menemui kedua tentara tersebut. Namun secara tiba-tiba Ermanto langsung mengarahkan moncong senjatanya ke arah Ampelsa sambil berteriak

“Ini ada pelurunya, Saya tembak kamu nanti”

Saat sedang marah-marah, Ermanto melihat kartu pers yang tergantung di leher Hotli Simanjuntak. Saat melihat kartu pers tersebut, Ermanto berkata:

“Kalian wartawan yah? Dari mana kalian?

Hotli menjawab bahwa mereka baru pulang dari meulaboh untuk meliput proses serah terima bantuan di Meulaboh.

Setelah mengetahui bahwa rombongan adalah wartawan, teman Ermanto meminta Hotli dan Ampelsa untuk segera masuk mobil dan segera pergi.

Sesaat sebelum meninggalkan lokasi, Oknum TNI bernama Ermanto kembali mengarahkan senjatanya ke Baihaqi yang duduk di bangku depan, hingga mengenai telinga Baihaqi sambil berteriak.

“Silahkan laporkan kepada POM atau siapa saja”
Untuk menghindari aksi yang lebih serius, akhirnya rombongan wartawan segera meninggalkan lokasi kejadian dan langsung pulang menuju Banda Aceh.

Demikianlah kronologis ini diperbuat dengan sebenar-benarnya, dengan harapan kejadian serupa tidak menimpa orang lain, khususnya masyarakat yang saat ini sudah merasa nyaman dengan kondisi perdamaian yang sudah di capai melalui MoU Helsinki

19 July 2008

Sate Kameng & Lincah Aceh Khas Lhokseumawe




Lhokseumawe, kota urban ini terkenal sebagai tongkrongan jajanan. Aneka menu dari berbagai daerah bisa anda dapatkan di sini. Tapi rugi, kalau singgah ke sini anda malah menyantap makanan yang bukan khas daerah sini.

JANGAN cari mie Aceh di sini, karena mie goreng di sini ya mie Aceh itu. Anda bisa mencari ragam makanan lain yang tidak pernah anda santap di Medan. Seperti martabak durian—orang Aceh menyebutnya puko keube—bukan martabak telur, paling terkenal tempat tongkrongannya di Geudong—lebih kurang 15 menit dari pusat kota. Bebek panggang atau bebek gulai—paling terkenal di Merdu—melewati Bireun (dua jam lebih dari Lhokseumawe). Nasi gurih dengan dendeng Aceh goreng—bisa anda dapati di berbagai tempat—sebagai santapan pagi masyarakat di sini.

Kalau ingin mencicipi Sate Matang tidak perlu mengejarnya sampai ke Matang Geulumpangdua. Di Krueng Gukueh—lebih kurang 10 menit dari pusat kota, anda bisa menemukan goyang lidah khas Aceh ini. Apalagi sate kambing-nya, uhhhhhmaungat that (enak sekali). Jangan lupa juga dengan rujak Aceh, karena di Medan tidak se-booming mie Aceh.

Sate Kambing Apa En
Sate Apa En—sebutan untuk paman/om, di Jalan Medan-Banda Aceh, Simpang Krueng Gukueh. Baik hari libur atau bukan tempat ini selalu ramai dikunjungi. Karena sate kambingnya memang sedap. Habis makan keringat bercucuran, bukan karena panasnya arang di tungku melainkan dasyatnya sate kambing serta kuahnya, bikin lidah ‘goyang’. “Sang maungat that sate kameng nyoe…(kaya’-nya enak sekali sate kambing ini),” kata saya kala itu.

Apa En bernama asli Ilyas Raden, sudah sembilan tahun menekuni bidang usah ini sejak tahun 1999. Ramuan resep sate ia dapatkan dari abang iparnya, M. Nur yang berprofesi sama seperti dirinya—penjual sate. “Dulu saya mangkal di Warkop Robusta, tepatnya 2005 lalu mulai pindah di sini, Keude (warung) Teuku Daud,” terang pria berusia 30 tahun yang tampil rapi meski ia cukup disibukan dengan kegiatan jual-beli di sini.

Katanya lagi, daging kambingnya adalah daging pilihan yang dipotong berukuran dadu, biar tidak bau, dicuci beberapa kali kemudian dicampur garam, penyedap rasa dan gula, sebelum ditusuk pada tusuk sate. Wangi daging segar bakar terhirup saat bara arang mulai membakar sate hingga matang. Kuah soto pun tersedia panas, isinya berupa campuran tulang rusuk dan lemak kambing, tanpa santan tentunya. Bumbu kacang, ups… tunggu dulu, bumbu kacangnya beda dengan bumbu sate kacang Madura atau sate kacang Padang. Kacang dicampur dengan kecap manis, bawang goreng, tidak digiling halus. Kata Apa En, biar kacangnya terasa.

Sate Aceh merupakan lauk kuah soto, bumbu kacang yang dimakan dengan nasi putih bertabur bawang goreng—bukan makan dengan lontong. Menurut Mae—pedagang klontong—ia sering menghabiskan waktu bersama keluarga makan siang di sini. Menurutnya yang membuat sate kambing di sini istimewa terletak pada kuah soto dan bumbu kacangnya. “Kalau kita sudah sekali menyantapnya maka kita akan ketagihan,” terangnya ramah.

Hal senada juga di ucapkan Saiful—pegawai swasta, yang menghabiskan jam makan siangnya di warkop ini bersama teman sekantornya. “Habis makan sate kambing, keringat akan keluar. Pedasnya terasa, sepertinya ada rasa merica pada kuahnya. Bumbu kacangnya juga tidak terlalu manis. Harga satu tusuk seribu lima ratus rupiah.” Belum bisa dipercaya kalau tidak mencobanya, karena itu saya pun mencicipinya. Walah…tanpa terasa tusuk demi tusuk sate itu saya santap dengan lahap. Lantas keringat di kening saya mulai berkucuran, tubuh jadi panas, juice semangka cepat-cepat saya pesan dari warung sebelah untuk menetralkannya.

Satu hari ternyata sate Apa En menghabiskan dua hingga tiga ekor kambing…

Rujak Aceh Ujong Blang
Seperti biasa di atas meja papan yang sederhana ada beberapa limun bersoda dengan berbagai rasa dan merek. Juga kerupuk, keripik pisang dan kacang goreng. Pantai ini, tempat santainya muda-mudi dan keluarga saat weekend. Memandang laut lepas dan melihat aktifitas para nelayan melaut, sambil menyantap rujak…

Rujaknya tidak sama dengan rujak Kolam, Medan. Salah satu campuran bumbu rujaknya terbuat dari manisan aren bukan gulan jawa. Buah batok (buah ini hanya ada di Aceh) dan rumbia. Rasa kelat terasa bukan hanya dari pisang batu saja, melainkan dari buah rumbia. Dua buah ini akan mencipratkan aroma tersendiri bersama campuran manisan arennya.

Buah batok, bentuknya seperti batok kelapa. Buah ini di belah seperti membelah kelapa. Karena kulitnya keras seperti tempurung. Isi buahnya, biji-bijian kecil yang berserat, kalau digiling akan halus seperti biji pisang batu. Buah ini wangi dan rasanya asam-manis. Buah rumbia, batangnya menghasilkan sagu dan daunnya dijadikan atap. Kedua buah ini banyak terdapat di daratan Aceh.

Menurut Wati—penjual rujak, proses pembuatan bumbu rujak adalah sebagai berikut, “ Garam secukupnya baru kemudian cabe rawit, buah rumbiah, buah batok, asam jawa, pisang batu digiling secara bersamaan. Setelah agak halus, baru manisan aren dituangkan. Manisan inilah pengganti gula jawa. Inilah yang membedakan rujak Aceh dengan rujak Kolam,” jelas wanita muda berkulit hitam manis yang mendapatkan resep pembuatan rujak secara turun temurun.

Inong (sebutan perempuan Aceh) itu dengan lihai mencampurkan semua buah yang sudah dipotongnya ukuran dadu. Kemudian mengaduknya dengan sendok di atas batu giling berukuran besar. Setelah merata baru dia menuangkannya dalam piring. Penghabisan, ia menaburi kacang goreng di atasnya. Wuih…sedap, ranum buah sangat padan rasanya bersama bumbu. Pedas pun akan terasa dilidah bersama manisnya manisan aren.

Campuran buah berupa ubi rambat kuning, mangga muda, mancang (sejenis mangga), mentimun, kedondong, pepaya muda, jambu air, bengkoang. Terkadang, kalau lagi musim jeruk Bali, buah ini juga ikut dicampurkan. Sudah terbayangkan bagaimana enaknya? Bumbunya terasa pedas, kelat, manis, dan asam. Saya tidak membiarkan piring ini tersisa. Yam…yam

18 June 2008

Renungan Senja


Orang tua, ...
Pernah suatu pagi anda bangun dan mendapati tidak ada siapa pun di sekeliling anda. Sunyi, sepi...tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain kecuali diri anda sendiri, apa lagi itu dibarengi dengan usia anda yang semakin renta. Kesendirian...apa yang anda rasakan kala itu?
Pernahkah anda memikirkan orangtua anda saat anda tidak lagi bersama mereka? Pernah?
Jawab dengan jujur...anda rasakan kah kesepian itu?

Dulu,...rumah ini ramai orang, suara tawa anak-anak saat bermain, kelang berapa lama tawa itu menjadi tangisan, hingga anda merasa segalanya bising...tapi tidak kini. Anda telah ditinggal anak dan suami...sendiri ya sendiri, wanita tua, keriput, sakit-sakitan dan sendiri. Dulu juga masih ada suami, kini ia telah mendahului anda pergi menghadap sang Khalid. sementara anak-anak yang bersama suami tercinta anda besarkan telah memiliki keluarga sendiri, jauh dan entah ke mana tak ada kabar.

Merenung sejenak...
Apa anda dapat rasakan kesepian ibu anda ini?
Andai saja yang sendiri itu diri anda, anda lah yang tua dan keriput serta sakit-sakitan itu. Anak-anak anda tidak peduli, mereka sibuk dengan keluarga dan kehidupannya sendiri sehingga tak ada waktu memberi kabar atau bertanya kabar tentang anda...sunguh tak peduli.

Kasihan ibu, tanpa ayah, sepi, anak-anak menghilang dan tak peduli...
Kasihan ibu, sakit, tak ada duit berobat, diam dan menunggu dalam kepasrahan menanti ajal menjemput...kasihan ibu.

Air mata itu tak lagi ada muaranya, kering...
Selagi orangtua anda masih hidup, berbuatlah yang terbaik untuk mereka
Karena setelah mereka tlah tiada,...sakit, saat rindu menyapa, anda tidak bisa lagi menatap senyum dan bermanja lagi dengannya. Merasakan usapan dan belaian ketulusan kasih keduanya baik senang maupun susah. Tidak bisa lagi...semua hanya tinggal kenangan...pusara yang terus di ziarah...menatap nama dalam nisan dan menggadahkan doa dalam ketulusan untuk keduannya.

Biadab lah mereka yang telah menyia-nyiakan kedua orangtuanya. Menelantarkan keduanya saat tua renta dalam kelaparan, sungguh biadab! Membiarkan orangtua mereka dengan usia yang makin senja mengais rezeki di emperan kaki lima bahkan mengemis dan tertidur kedinginan di trotoar jalan, mereka-mereka ini bukan lagi layak dipanggil manusia...karena hati nuraninya dan belas kasihnya telah hilang...

Suatu saat, sadarlah dirimu juga akan mengalami tua, anak-anakmu juga akan meninggalkanmu
Dan karma itu akan datang...anak-anakmu juga akan menelantarkanmu dalam kesombonganmu kepada orangtuamu dulu, ketidak pedulianmu akan dibalas Tuhan...

Semoga dengan membaca ini kita sadar, sebenarnya tidak ada apa-apanya kita ini. Selain setiap harinya berbuat baik kepada orangtua, anak, istri, suami, dan semua yang bernyawa...hargai hidup dengan memberi kehidupan kita buat orang-orang yang kita cintai juga mereka yang memerlukan cinta kita...






Anggun Kembali Untuk Negeri




(Untuk mengenang kembali ingatan kita bagaimana kesuksesan Anggun mengobati kerinduan fansnya di tanah air, terutama di Medan, tepat 2007 lalu, ia kembali dalam jeritan sebuah kerinduan yang teramat dalam hingga saat berpisah-mengakhiri konsernya tersebut mata wanita seksi dan cantik ini berkaca-kaca...)

Anggun C. Sasmi kembali mewarnai dunia musik negeri ini. A Mild bersama CN Communication memboyongnya dalam ‘Konser Untuk Negeri’ di tiga kota di Indonesia, Jakarta, Medan dan Bandung. Dua pekan lalu diva kelahiran 29 April 1974 ini mengobati kerinduan fansnya di Medan, ia menghentak Pardede Hall dengan konser memukau.Jay Subyakto bersama Inet Leimena menyulap Pardede Hall menjadi tempat konser yang layak. Sound tidak terdengar pecah lagi, malah mampu mengajak penonton Medan larut bersama Anggun menyanyikan bait-bait lagu yang menjadi kenangan negeri ini. “Konser di Medan merupakan kelanjutan dari konser sebelumnya di Jakarta, tepatnya Mei lalu. Untuk urusan dekorasi panggung, bloking hingga tata panggungnya saya dibantu Inet, Taba dan Oleg.” ujar Jay. Dia bersama kawan-kawan pun membuktikan keahlian mereka.

Malam itu Anggun tampil sensual, memukau semua yang hadir. Sebelum lagu ‘Tua-tua Keladi’ terlantunkan, penonton berteriak memanggil Anggun untuk tampil kembali setelah Anggun muncul menggucapkan ‘sayonara’. Tidak lama musik itu berhenti, karena Anggun pun ternyata pergi hanya sementara. Ini menjadi babak yang telah diatur skenarionya oleh Jay.

“Anggun!!!!...”teriakan itu semakin gencar. Suara riuh pun mulai terdengar mengiringi detingan musik menyambut ‘Tua-tua Keladi’ dari suara anak kedua dari pasangan Almarhum Darto Singo dan Dien Herdina ini.

Musisi Indonesia, Andi Ayunir mampu memberi nuansa baru lantunan dari lagu-lagu lama Anggun yang dulu pernah digelari ‘si gigi ginsung’. Lagu ini dinyayikan Anggun sebelum pergi meninggalkan Indonesia mengejar impiannya di Perancis, 1994. Andi Rif muncul dari balik layar ketika Anggun menyanyikan lagu ‘Takut’, lampu terus meyoroti mereka berdua yang larut dalam keakraban sesama rockers.

Semua busana yang membalut Anggun malam itu benar-benar membuat suasana yang mengemaskan apalagi saat tangan-tangan lentik anggun menari gemulai menggikuti setiap gerak lagu ‘Snow on the Sahara’. Di lagu ‘Yang Aku Tunggu’ Anggun tampil dengan kipas merahnya. Saat itu mik yang dipegang istri Louis Olivier Maury ini tak mengeluarkan suara, tapi dengan sigap Spoke PBB yang doyan manggis ini memberi isyarat ke belakang panggung. Kejangalan ini tidak dirasakan penonton yang memang terhanyut dalam lagu nostalgia mereka bersama sang idola.

Ternyata apa yang direncanakan Jay untuk membuat konsep konser yang seolah-olah penggemar tidak terasa lagu sudah habis terbukti. Di penutup acara, tembang berbahasa Perancis dalam album terbaru Luminescence ini, anak-anak band satu-satu pergi meninggalkan Anggun. Sampai akhirnya Jay muncul membawa ulos menyelimuti Anggun. Suara yang masih mendeting itu mulai serak, perlahan, isak dari kesedihan untuk enggan berpisah kian terasa. Bunga mawar yang diberikan salah seorang pengemarnya masih terpegang erat ditanggan kirinya…sayonara Anggun! “Ah…akhirnya konser ini berakhir juga,”kata Aditya Jani dari A Mild Sumut yang sedikit berkeringat.

30 May 2008

Pengenalan Kamera


(Tulisan ini Aq rangkum dan tulis agar bisa dipetik manfaatnya dalam peningkatan wawasan bagi pemula pecinta fotografi)

Kamera adalah alat mekanik (hardware) yang terdiri dari beberapa komponen peralatan yang di design sedemikian rupa sehingga mampu berfungsi sebagai perangkat yang mampu merekam gambar.

Beberapa jenis kamera:

  1. Kamera range finder

Kamera yang paling sederhana dan biasanya jenis kamera ini memiliki pengamat , langsung (direct vision camera). Hampir semua jenis kamera ini berukuran kecil, fasilitas yang terdapat dalam kamera ini sangat sederhana dan kamera ini hanya cocok untuk pemotretan dokumentasi pribadi.

Contoh: Nikon Af 35 m, Canon Autoboy, Yashica, Minolta, Fuji MDL, dll.

  1. Kamera Single Lens Reflex (SLR) atau Refleks Lensa Tunggal (RLT)

Jenis kamera ini adalah yang paling popular dikalangan pemotret amatir maupun professional. Fasilitas kamera ini bermacam-macam sehingga memungkinkan untuk berkreasi sesuka hati, selain itu lensanya juga dapat ditukar-tukar. Ukuran film yang digunakan adalah 35mm. Sistim kerja menggunakan sebuah cermin refleks dan penta prisma. Contoh: Nikon FM10, Canon AE-!, Asahi Pentax, Vivitar V3000S.

  1. Roll Film Single Lens Reflex

Jenis kamera ini sangat mirip dengan kamera SLR/RLT biasa, hanya berbeda ukuran film yang digunakan yaitu film roll. Contoh: Hasselblad ELX, Mamiya RB 67, Rolleiflex 66, dll.

  1. Kamera Twins Lens Rreflex (TLR) atau Refleks Lensa Kembar (RLK).

Kamera jenis ini mempunyai dua buah lensa, satu digunakan sebagai pengamat (viewing lens) dan yang lainnya sebagai lensa obyek (object lens). Kamera ini biasanya menggunakan film roll atau ada juga menggunakan film kaset 35mm. Contoh; Yashicamat, Rolleiflex, Mamiya C220, dll.

  1. View kamera

Kamera jenis ini adalah kamera yang dirancang khusus untuk keperluan professional, karena memiliki fleksibilitas yang jauh lebih luas dibandingkan dengan kamera jenis lainnya. Tetapi cara pengoprasian kamera ini rumit, sehingga hanya sedikit sekali yang berminat. Contoh: Horseman, Combo, Toyo View, dll.

  1. Pocket Kamera

Kamera ini merupakan kamera sederhana dengan fasilitas terbatas dan menggunakan jenis film kaset ukuran 110. Contoh: Fujica, Kodak, dll.

  1. Instant Picture Kamera

Jenis kamera ini yang lebih dikenal dengan kamera Polaroid atau istilah awamnya kamera foto langsung jadi. Kamera ini sifatnya membuat gambar seketika (instant). Film yang digunakan dari jenis instant paper atau film Polaroid. Banyak digunakan oleh pemotret keliling di lokasi wisata.

Lensa

Lensa merupakan mata bagi kamera yang melihat suatu obyek yang akan direkam ke dalam film (pita celluloid). Melalui lensalah obyek akan menjadi bayang laten yang terbentuk pada permukaan film dan menjadi bayangan nyata pada saat proses cuci.

Ada 4 hal penting dalam pemilihan lensa, yaitu:

  1. Mounting; merupakan ujung lensa yang berfungsi untuk menyambungkan lensa dengan kamera. Mounting terdiri dari tipe ulir, bayonet, atau tipe lainnya. Setiap kamera dan lensa memiliki standar masing-masing.
  2. Accessories ring; yaitu diameter ting depan lensa yang dapat dipasang peralatan tambahan (assesoris) lensa semisal filter, tudung surya, chockin, dll. Ukuran ring ini bermacam-macam antara lain: 49mm, 52mm, 55mm, 60mm, 72mm, 82mm, tergantung jenis lensa yang digunakan.
  3. Focal Length; yaitu angka panjang focus lensa. Hal ini menentukan karakteristik lensa. Makin kecil bilangan ‘mm’nya makin lebarlah sudut pandang (picture converage) yang diperoleh, selain itu ruang tajam yang dimilikinya semakin besar.
  4. Diafrahma (f stop); besar kecilnya angka f stop ini menentukan kekuatan dari lensa tersebut. Makin kecil f stopnya makin kuat lensa tersebut. Kuat lensa adalah kemampuan sebuah lensa untuk meloloskan cahaya melalui peralatan optic lensa tersebut. Makin banyak cahaya yang dapat diloloskan maka semakin baiklah lensa tersebut.

Menuru jenisnya lensa terdiri dari: lensa normal (normal lens), lensa sudut lebar (wide angle lens), lensa tele pendek (medium tele/portrait lens), lensa ultra sudut lebar (ultra wide angle lens), lensa mata ikan (fish eye lens), lensa tele panjang (telephoto lens), lensa tele super panjang (super telephoto lens), lensa tele refleks (reflex telephoto lens), lensa zoom (zoom lens), dan lensa khusus (special purpose lens).

Begitu banyaknya jenis lensa yang ada saat ini, namun yang akan diketengahkan disini hanya empat jenis lensa saja, yaitu:

1. Lensa Norma (Norma lens)

Lensa ini biasanya merupakan perlengkapan lensa standar yang dikeluarkan oleh pabrik pada saat kita membeli kamera SLR 35mm. Ukuran panjang fokusnya adalah 50mm, namun ada juga yang berukuran 40mm. Hasil tangkapan gambar ini adalah penampakan yang sesungguhnya terlihat oleh mata biasa.

2. Lensa Sudut Lebar (Wide Angle Lens)

Lensa sudut lebar memiliki ukuran panjang focus 24mm, 28mm, dan 35mm. Lensa ini digunakan untuk menangkap gambar yang luas semisal pemandangan dan untuk pemotretan di dalam ruangan yang sempit. Sudut pandang yang dihasilkan adalah 84, lebih kecil dari obyek aslinya, gambar luas 74 dan mempunyai kedalam ruang tajam yang luas.

3. Lensa tele (Telephoto lens)

Lensa tele sebagai lensa pengintai karena lensa ini dapat menangkap obyek yang jaraknya cukup jauh sekalipun, sehingga sering digunakan oelh paparazzi untuk memotret dari jarak yang cukup jauh. Lensa ini sangat cocok dan sering digunakan untuk foto potret orang atau model. Karena dapat menghasilkan blur (latar belakang kabur) dan ruang tajam yang kecil. Ukuran lensa tele beragam, antara lain : 85mm, 105mm,135mm,180mm, 200mm, 300mm, 400mm, 600 mm,1000 mm.

4. Lensa zoom (Zoom Lens)

Jenis lensa ini merupakan gabungan beberapa jenis lensa yang ada dengan jangkauan dan sudut pandangan yang berbeda. Oleh sebab itu lensa ini harganya lebih mahal dari jenis-jenis lensa yang lain. Tapi penggunaan dengan lensa ini mempunyai banyak keuntungan karena kita tidak perlu repot-repot menukar lensa untuk sebuah obyek yang akan difoto. Kita tidak perlu mengubah-ubah posisi dan jarak pemotretan. Cukup hanya menggeserkan posisi panjang focus lensa. Variasi pada lensa zoom sangat banyak jenisnya, antara lain: 35-70mm, 28-80mm, 28-105mm, 28-210mm, 80-200mm, 50-300mm, 200-600mm. Pemakaian untuk lensa ini sangat cocok digunakan untuk tugas-tugas jurnalistik dan foto-foto olahraga.

Bagian-bagian kamera

Perangkat utama fotografi adalah kamera, untuk bisa memotret maka kita juga perlu mengenal bagian-bagian kamera. Kamera SLR/RLT dan jenis dan tipe yang paling populer yiatu:

1. Badan kamera (kamera body); bagian yang membentuk sebuah kamera.

2. Lensa (lens); bagian berbentuk tabung/silinder yang terdiri dari sususnan optik.

3. Tombol rana (shutter release button); bagian yang terletak pada sisi atas kanan kamera berupa tombol.

4. Ring pengatur kecepatan rana (shutter speed dial); bagian yang terletak pada sisi kanan atas (pendekatan dengan tombol rana), badan kamera yang terdiri dari angka-angka B, 1, 2, 4, 8, 15, 30, 60, 125, 250, 500, 1000, 2000. Angka kecepatan ini tergantung pada jenis dan merk kamera.

5. Ring pengatur kepekaan film (film speed dial); tombol yang terletak pada bagian atas kamera yang dapat diputar sebagai penunjuk kecepatan film yang digunakan. Terdiri dari angka standar ISO 12, 25, 50, 100, 200, 400, 800, 1600, 3200,…

6. Ring pengantur diafrahma (diafrahma ring); bagian yang terletak pada tbung lensa yang merupakan bukaan angka-angka penunjuk diafrahma. Angka-angka ini biasa disingkat dengan ‘f’ yang terdiri dari angka 1.4, 2, 2.8, 4, 5.6, 8, 11, 16, 22, 32.

7. Skala ruang tajam (dept of field scale); bagian yang terletak pada tabung film berdekatan dengan ring pengatur diafrahma yang terdiri dari susunan angka: 16, 11, 8, 4 ^ 4, 8,11,16

8. Lubang pengamat / celah pengintai (View Finder); adalah kaca yang terletak pada belakang kamera yang berfungsi sebagai celah pengintai.

9. Tabir film / penutup (focal plane); bagian berupa tirai yang menyekat / menutup antara lensa dan film. Terletak di dalam kamera.

10. Pengokang film (film advance lever); bagian yang dapat ditarik yang terletak pada bagian kanan atas kamera.

11. Tombol penangguh waktu (self timer lever); bagian yang berfungsi untuk menangguhkan saat pemotretan selama beberapa detik. Biasanya terltak pada bagian depan kamera.

12. Engkol penggulung balik (film rewind crank); bagian yang berfungsi untuk menggulungkan film yang telah terpakai. Letaknya berada pada bagian kiri atas kamera dan lengkapi dengan engkol penggulung yang dapat dilipat.

13. Sepatu panas blitz (hot shoe); bagian yang berada pada tenggah kamera yang terdiri dari bulatan logam sebagai alat pengontak lampu kilat dengan mekanisme kamera.

14. Terminal kontak blitz (flash terminal); bulatan sekunder stekker sebagai tempat penyambung kabel lampu kilaat ke badan kamera.

15. Cermin (mirror); bagian yang terletak di dalam ruang pencahayaan pada kamera yang berfungsi sebagai reflector bayangan dari lensa ke jendela pengamat.

16. Wadah batere (battery compartment); terletak di bagian bawah kamera, atau dibagian depan kamera, dan pada jenis kamera tertentu terletak di bagian dalam kamera di bawah cermin.

17. Tombol pengukur cahaya (light meter switch); biasanya terpasang langsung pada tombol rana, yang jika ditekan setengah akan mengaktifkan indicator atau alat pengukur cahaya.

18. Tombol pelepas film (film release button); tombol yang terletak pada bagian bawah kamera di sebelah kanan. Jika tombol ini ditekan, maka roda gigi pengait film akan berada pada posisi bebas dan film siap untuk digulung balik dengan tombol penggulung film.

Peralatan tambahan pendukung kamera

Dalam dunia fotografi banyak fasilitas tambahan untuk mendukung dan memudahkan pemotretan agar dapat menghasilkan foto-foto yang baik dan berkualitas. Adapun alat-alat tambahan itu yang paling sering digunakan antara lain:

1. Tripod (kaki tiga); berfungsi untuk menyangga kamera dan tripod inipun memiliki berbagai macam ukuran. Ada yang berukuran kecil (Lighweight tripod), ukuran sedang (standard tripod), dan ada yang berukuran besar (Large Format Tripod).

2. Monopod (Penyangga kamera berkaki tunggal)

3. Kabel pelepas rana (shutter release cable)

4. Filter-filter (aksesoris tambahan) berfungsi untuk menimbulkan efek-efek tertentu pada sebuah foto.

5. Tudung lensa (lens hood) berfungsi untuk melindungi bagian terdepan dari lensa.

6. Tas kamera dan tempat lensa.

7. Peralatan untuk membersihkan lensa dan kamera yang terdiri dari:

- Brush, yaitu kuas pembersih yang terbuat dari bahan lembut dan sekaligus memiliki sarana penghembus debu.

- Liquid lens cleaner yaitu cairan pembersih lensa.

- Lens cleaning paper yaitu tisu pembersih lensa yang terbuat dari kertas lembut dengan bahan khusus.

- Lens cleaning tissue yaitu kain pembersih lensa yang terbuat dari bahan halus.

Komposisi

Untuk menciptakan suatu karya foto yang berhasil, fotografer harus dapat membuat foto, bukan hanya memetik foto. Foto yang dibuat tentu lebih baik karena memiliki konsep yang kuat seperti memperhatikan unsur teknis foto, pencahayaan, dan kompisisi sehingga foto menjadi lebih hidup dan memiliki jiwa.

Unsur pendukung untuk membuat sebuah foto yang baik tersebut adalah komposisi. Komposisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefenisikan sebagai susunan atau tatanan. Dalam fotografi sendiri susunan atau tatanan berfungsi menciptakan jiwa (isi foto) agar foto tersebut memiliki nilai dan bermutu.

Unsur-unsur yang terdapat dalam komposisi yaitu:

- Angle (sudut pengambilan)

Terdiri dari beberapa macam yaitu sudut pengambilan dari bawah (frog eyes fiew /low angle), sudut pengambilan dari atas (bird eyes view / high angle) dan sudut pengambilan datar (norma view)

- Format yaitu bentuk foto bagaimana menciptakan foto menjadi menarik dan mempunyai suasana (jiwa) dalam foto. Format sendiri terdiri dari:

1. Format horizontal, format ini sering dipakai saat pemotretan dengan kamera SLR 135mm. Karena rancang bangun kameranya yang juga horizontal. Kesan dari foto ini cenderung tenang (kalem), luas dan statis.

2. Format vertical, format ini dikenal dengan format tegak (berdiri) dan kesannya terasa sempit.

3. Format diagonal, format ini disebut juga format miring untuk memberikan kesan perspektif dan lebih panjang.

- Bingkai yaitu ruang di mana seorang fotografer akan menemukan inspirasinya. Biasanya bingkai selalu dipakai untuk wadah di mana seorang fotografer akan mengkomposisikan unsure-unsur fotografi lainnya.

- Titik; seorang fotografer kerap membuat perbandingan antara titik dan bingkainya. Titik-titik ini akan tampil untuk menciptakan center of interset (pusat perhatian).

- Garis; sekumpulan dari beberapa titik, hubungan terpendek dari dua buah titik disebut sebagai garis lurus. Selain garis lurus, tentu ada garis lengkung dan garis patah-patah. Baik garis lengkung maupun patah-patah terbentuk dari beberapa kumpulan titik.

- Aksen (Warna); aksen yang dimaksud di sini adalah yang menjadi unsur yang menonjol dalam sebuah foto yaitu warna. Warna-warna dalam fotografi mempunyai pengaruh yang menentukan dalam pembentukan center of interest (pusat perhatian).