20 April 2010

Memoriam Tsunami dalam Polesan Wisata Islami






Teks Saniah LS
Sebut Aceh, maka terputarlah piringan kelam ‘film hitam-putih’ tentang peristiwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004. Seketika itu Aceh dikenal di luar maupun dalam negeri karena pemberitaan mengenai tragedi mengenaskan tersebut yang telah menelan korban 173.741 jiwa.

RENYUH hati ini. Bila saya mengenang kembali tragedi yang memilukan tepatnya 5 tahun silam itu, 26 Desember 2004. Seakan bau busuk mayat yang bergelimpangan di trotoar jalan, reruntuhan pertokoan, rumah, dan perkantoran masih tercium jelas, bila saya mengingat kembali memoar pahit tersebut.
Kampung kelahiran orangtua saya yang diluluhlantakan oleh goncangan gempa bumi dan dihempas gelombang tsunami yang setinggi 7 meter. Maka untuk mengenang momen memilukan itu, saya pun melancong tanoh Serambi Makkah melalui jalan darat dengan menggunakan bus pada malam hari. Tepatnya dua bulan yang lalu, pertenggahan Oktober 2009
Tepat pukul 5.30 WIB saya sudah tiba di terminal bus besar di Kota Banda Aceh, yang perjalanannya saya tempuh selama 12 jam. Kemudian singgah sebentar di warung kopi (warko) berlantai dua, Dhapu Kupi. Warkop bergaya minimalis itu berlokasi di Simpang Surabaya jaraknya sekitar 10 kilometer dari stasiun bus. Dari keterangan pelayan Dhapu Kupi, warkop ini buka 24 jam. Jadi apa salahnya sambil menunggu subuh menjelang pagi, saya pun mencoba menikmati kopi Aceh (Kopi Ulee Kareng) dengan beberapa potong roti selai.
Setelah menyeduh ‘si hitam’ dan membayar santapan saya itu dengan biaya yang tidak terlalu mahal yaitu Rp 7000, saya pun melanjutkan perjalanan menuju penginapan dengan menggunakan beca mesin menuju Jalan T. Nyak Arief. Tepat di depan Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, saya pun diturunkan di hotel ‘berbintang kecil’ yaitu Hotel Madinah. Range menginap di hotel ini lumayan murah dan hotelnya pun lumayan bersih.
O..ya sepanjang perjalanan menuju hotel, saya melihat Kota Banda Aceh raut wajahnya mulai berseri. Ibu kota Pemerintahan Aceh ini sudah tertata rapi dan bersih. Cuma ada satu hal yang menganggu mata yaitu bilboard dan spanduk di setiap sudut kota tertata semeraut, sehingga menutupi sebagian wajah kotanya. Seharusnya hal ini menjadi perhatian Pemerintah Kota Banda Aceh dalam hal penataan kotanya. Jika memang ingin menjadi Kota Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami Indonesia.
Suara ramai mesin kendaraan menderu, membangunkan saya dari tidur. Saya melirik jam, ternyata hari sudah mulai beranjak siang. Saya pun berpikir sudah cukup tidur tiga jam dan sudah saatnya saya bergegas ke kamar mandi, mandi dan berpakaian. Karena sebentar lagi beca mesin yang mengantakan saya tadi akan menjemput saya kembali.
Setelah siap dengan perlengkapan seperlunya, saya pun menuruni anak tangga dan segera keluar menemui si abang beca yang ternyata sudah 5 menit berada di halaman hotel sederhana ini. Sambil tersenyum saya pun mengatakan kepada abang beca tersebut, bahwa perjalanan saya akan dimulai dari sini. “Sudah lama bang?” tanya saya membuka pembicaraan. “Tidak, baru 5 menit saya sampai,” ujar Ahmad, nama dari abang beca itu yang juga akan menjadi guide saya saat di sini.
Sambil berjalan saya pun menanyakan kepada Ahmad kemana tujuan kami sekarang. “Kemana kita bang?” tanya saya ingin tahu. “Kita ke Museum Tsunami aja dulu,” usul Ahmad. Saya pun mengangguk setuju hingga akhirnya kami pun tiba di depan Museum Tsunami Aceh yang terletak bersebelahan dengan Lapangan Blang Padang.

Arsitetur Modern di Museum Tsunami Aceh
Tempat di depan Museum Tsunami Aceh, di Lapangan Blang Padang, bertenggernya Monumen Pesawat Dakota RI-001 Seulawah—pesawat yang disumbangkan rakyat Aceh untuk perjuangan RI—pesawat Dakota RI-001 ini juga cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan Niaga Pertama Indonesian Airways.
Pesawat ini selamat dari musibah 26 Desember 2004 silam. Kemudian keberadaan monument sejarah bagi rakyat Aceh ini pun di pindahkan posisinya ke sebelah kanan (kalau dulu sebelah kiri). Pesawat Dakota RI-001 Seulawah itu pernah menerbangkan Mohd. Hatta, Wakil Presiden pertama RI keliling Pulau Sumatera. Setelah memotret pesawat tersebut, saya pun melanjutkan langkah kaki saya ke Rumoh Aceh as Escape Hill.
Museum Tsunami ini memiliki banyak arti dalam perlambangannya. Gedung ini berbentuk persis kapal pesiar yang mendarat di pusat kota. Dibangun megah dan modern, berlantai 4 dengan fitur-fitur bangunan bercorak ke Islami. Atap Lantai bangunannya terlihat seperti ombak yang tersisir rapi. Saya terkagum dengan arsitektur bangunannya. Oh ya, dari sebuah situs internet ketika saya browsing sebelum melancong ke mari, untuk berwisata tsunami, bahwa hak cipta desain arsitektur Rumoh Aceh as Escape Hill itu dipegang oleh 4 orang yaitu Muahmmad Eidwan Kamil, Muhammad Yuliansyah Akbar, A.A. Putra Munchana, dan Asep Budiman.
Bagunan modern ini pengerjaannya sudah selesai namun sayang terlihat masih melompong (kosong), belum ada barang atau peralatan peninggalan tsunami yang dipamerkan di sini selayaknya museum lainnya. Sehingga saya dan beberapa pengunjung yang datang ke tempat ini hanya melihat bangunan arsitekturnya saya yang memang terpoles sangat modern.
Oh ya, sebuah infomasi di internet kalau bangunan yang dibangun di atas lahan 10.000 persegi ini dibangun dengan biaya Rp 140 miliar. Dana ini kucuran dari BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) yaitu Rp 70 miliar dari BRR dan sisanya Rp 70 miliar lagi dikucurkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI.

Ulee Lheu Kini..
Setelah dari Museum Tsunami Aceh, saya pun melanjutkan perjalanan ke Ulee Lheu Jalannya searah dengan jalan Iskandar Muda, di mana bangunan Museum Tsunami Aceh berada. Jalan ini juga jalan penghubung menuju pelabuhan penyeberangan ke Sabang. Dulu, Ulee Lheu tidak seindah sekarang ini, jalannya juga bagus dan megah.
Nah, di Ulee Lheu ini lah terdapat banyak spot wisata tsunami seperti Kantor Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana Tsunami Center, Masjid Baiturrahim (bangunan yang satu-satunya utuh yang selamat dihantam tsunami), Kuburan Massal, gedung keselamatan, dan alarm pendeteksi tsunami (early warning system). Banyaknya spot wisata tsunami terdapat di sini. Menjadikan Ulee Lheu sebagai salah satu pesisir pantai yang sering dikunjungi pelancong ketika Bertandang ke tempat ini untuk wisata tsunami. Oh ya, letak antara pusat kota dengan pantai Ulee Lheu tidak lah begitu jauh jaraknya. Hanya 5 menit perjalanan.
Setelah terlebih dahulu singgah ke kuburan massal untuk mendoakan para suhada yang meninggal dunia akibat bencan maut itu, saya pun melanjutkan kunjungan ke Masjid Baiturrahim. Namun saya ingin memberikan sedikit infomasi soal kuburan massal di Ulee Lheu. Kuburan di komplek pemakaman massal ini tidak terdapat batu nisan, tapi kuburan di sini berbentuk hamparan tanah kosong dengan rerumputan yang hidup di atasnya dan beberapa gundukan batu alam yang besar pada setiap sudut sisi pemakaman ini. Sementara tembok beton dengan tulisan Arab berwarna hijau berada pada setiap sisi membentuk pagar. Jadi tidak tampak benar seperti komplek pemakaman.
Sedangkan kenapa Masjid Baiturrahim Ulee Lheu selalu disinggahi para pelancong itu karena masjid ini satu-satunya bangunan yang selamat di daerah tersebut. Sementara bangunan lain yang berada disekitar sudah rusak parah dihantam tsunami. Di masjid ini juga terdapat beberapa pajangan foto mengenai peristiwa 26 Desember 2004. Foto-foto yang menjadi bukti bertapa dasyatnya bencana yang sempat melinangkan air mata masyarakat dunia itu terpajang dekat pintu masuk masjid yang ketika siang hari, saat terik, warna langitnya sangat biru. Kontras dengan warna dinding Masjid Baiturrahimnya.

Kapal Apung PLTD, Icon Tsunami
Tidak sempurna kunjungan Anda jika tidak singah Punge Blang Cut, di Kecamatan Meuraxa untuk melihat kapal Apung PLTD milik PLN berbobot 4.500 ton itu yang terdampar dari lautan ke daratan dengan jarak lebih kurang 5 kilometer. Tempat ini juga menurut cerita sudah dikunjungi para pembesar dan seleb dari luar negeri, seperti sekjen PBB; Kopi Anan, mantan presiden Amerika Serikat; George Bush dan Bill Clinton, Ratu Spanyol; Sofia dan Damaso Delario (Dubes Spanyol untuk Indonesia), Perdana Menteri Australia; Kevin Rud, dan Bintang laga Hong Kong, Jacky Chen.
Kehebohan tentang terdamparnya kapal milik PLN yang di datangkan dari Kalimantan Barat ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan kekurangan pasokan listrik warga Banda Aceh dan sekitarnya pada saat konflik ke daratan seolah menjadi keajaiban yang luar biasa. Menandakan kekuasaan Tuhan. Saya naik ke atas kapal dan berjalan menyelusuri setiap ruang kapal ini. Tempat tidur, ruang pacu, dan dapur masih terawat dengan baik.

Monumen Kapal Di Atas Rumah
Lampulo merupakan sebuah perkampungan nelayan yang lokasinya tidak jauh dari Penayong, pasar tradisional Aceh. Daerah ini masa gempa bumi dan tsunami dulu kondisinya sangat parah tidak jauh beda dengan kondisi di Punge Blang Cut maupun Ulee Lheu. Namun kini daerah yang dekat pantai ini kini sudah dibangun kembali rumah penduduk oleh NGO sehingga tempat ini pun jadi ramai kembali.
Saya datang ke tempat ini, yang menurut masyarakat sekitar juga sering dikunjungi pendatang dari luar Aceh yang ingin melihat langsung bagaimana kapal kayu yang berukuran besar itu bisa terdampar jauh dari darat dan terdampar di atas atap rumah penduduk yang sudah hancur. Dari amatan saya kalau kita menggunakan logika memang seperti tidak mungkin. Namun apa sih yang tidak mungkin kalau Tuhan berkeinginan lain.
Oh ya sewaktu saya ke mari, monument ini lagi poles dan kapal kayunya juga dicat ulang kembali sehingga lebih kelihatan baru. Sementara agar pengunjung bisa masuk ke kapal ikan tersebut dibuat sebuah jalan penghubung ke arah kapal yang berada di atap rumah itu.

Makam Kuburan Syiah Kuala
Saya tidak merasa lelah, rasa keinginan tahu saya terus membenak sehingga mendorong saya untuk terus meninjau spot-spot wisata tsunami tersebut. Akhirnya perjalanan saya berakhir di komplek kuburan seorang ulama terpandang Aceh yaitu Sheikh Abdul Rauf Al-Fansuri atau yang dikenal dengan sebutan Teungku Syiah Kuala. Ulama besar Aceh kelahiran 1537 M yang wafat pada usia 105 tahun (pada tahun 1696 M) dan kuburannya saat tsunami tidak mengalami kerusakan.
Menurut cerita yang berhembus, makam keramat ini naik di atas permukaan air, sehingga selamat dari kehancuran dan begitu juga dengan mushola di depan kuburan keramat ini. Kini makam aulia tersebut sudah dipoles menjadi sebuah komplek pemakaman yang sangat islami. Pengunjung yang bertandang kemari pun harus berbusana yang menutup aurat. Hal itu jelas tertera di depan pintu masuk makam. Makam ini dijaga oleh penjaga makam yang usianya sekitar 60 tahun. Pria tua berpeci ini akan memberi informasi tentang keberadan kuburan ini.

Mini Box:
Transportasi ke Aceh bisa dilalui dari darat dan Udara. Dari darat bisa menggunakan bus atau L300 dengan waktu perjalanan yaitu 12 jam. Sementara harga tiket bus dari Medan-Banda berkisar Rp 110.000- (bus biasa), Rp 130.000.- (bus ekspres), dan Rp 180.000,- ( bus dengan kursi 2:1), semua ber-AC. Sedangkan ongkos untuk L300 dari Medan-Banda Aceh sebesar Rp 120.000,-.
Saat ini pesawat yang terbang dari Polonia Medan ke Sultan Iskandar Muda-Blang Bintang yaitu Pesawat Garuda, Lion Air, dan Sriwijaya. Harga tiket pesawat sekali terbang dari Rp 400.000.- hingga Rp 700.000,- (sesuai kurs dollar). Jarak terbang dari Medan ke Kota Banda Aceh yaitu 45 menit. Sementara harga hotel di Kota Banda Aceh dari hotel kelas melati hingga berbintang 4 ber-range per malamnya yaitu Rp 180.000,- hingga Rp 900.000,-.

03 April 2010

Rindu Ayah

Ayah,
Fotomu terus aku pandang
Senyum ketulusan masih membalutku dalam kasih sayangmu
Aku ingat ayah...saat-saat inilah ayah terbaring dalam resah di rumah sakit
Aku mencoba mendongeng pada masa lalu keluarga kita
Sepeda tua yang sering ayah bawa saat ayah berpangkat Letda
hingga Aku dan adikku yang ayah bawa keliling kota
Kota yang mempertemukan ayah dengan ibuku
Yah...sakit hatiku, sakit Yah!
Sakit, saat kantong kerinduanku pecah tak mampu kebendung lagi
Aku sangat rindu Yah, rindu kepada ayah
Aku tak dapat membendung airmata ini
Mata yang selalu ayah tenangkan dalam kelembutan kasih sayang ayah
Yah...saat aku terjaga ditengah malam
Yang mampu kulakukan memanjatkan doa sambil menatap masa lalu kita
Dalam kepingan frame yang ku letakkan dalam kamar tidurku
Yah...
Lihat aku, aku akan menjadi seperti yang ayah pinta
Menjaga dan mengusir sepi ibu dalam tawa canda yang aku hias setiap saat
Karena aku tau ibu sangat sepi tanpa ayah
Di rumah penuh kenangan itu yang tak mampu dia tinggalkan untuk ikut bersamaku
Yah...
Tidurlah dengan tenang
Aku akan menina bobokan ayah dalam hantaran doa malamku
Yah...aku rindu..rindu padamu